Monday, April 28, 2008
Ketepatan Informasi
Misalnya, RePro Agency dan Sequislife tidak pernah dan tidak akan pernah menjanjikan apa pun juga mengenai hasil investasi di masa yang akan datang. Kami tidak pernah mengatakan, "oh hasilnya pasti 44% terus menerus" karena jika memberikan pernyataan demikian, kami memberikan informasi yang keliru.
Yang benar adalah, pada kenyataannya rata-rata hasil investasi kalau dihitung bunga majemuk dari tahun 2002 hingga akhir 2006, besarnya adalah 44% per tahun. Kalau dihitung tahunan penuh (karena tahun 2002 tidak penuh setahun) dari 2003 hingga akhir 2007, besar rata-rata hasil investasi adalah 53,94%. Ini adalah hasil investasi yang sudah terjadi.
Perlu dicatat: kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa depan, tidak ada jaminan apa pun bahwa hal yang sama akan terulang kembali tahun depan.
Hanya saja, memang dari sini kita bisa melihat sesuatu bukti bahwa memang perusahaan yang terlibat di dalam bisnis ini adalah yang terbaik. Ada pengelola yang baik, yang menerapkan sistem yang ketat dan disiplin, untuk menumbuhkan dana yang kita investasikan. Schroders diisi oleh para profesional yang luarbiasa, Sequislife hebat, demikian pula dengan tim RePro Agency.
Namun, keadaan ekonomi bisa naik dan turun, dan kita lihat bahwa hari-hari ini tingkat kesulitan semakin tinggi. Inflasi tinggi. Harga minyak sepertinya tidak akan turun di bawah 100 US$ atau kembali seperti dahulu. Masa semua murah dan mudah sudah berakhir, sekarang kita semua harus berjuang, berupaya lebih keras.
Pengaruhnya, tentu saja hasil investasi pun turun. Mungkin tahun ini tidak sampai 44%. Malah dalam periode Jan - Mar 2008, justru turun. Hanya, memang turunnya investasi kita tidak setajam penurunan produk unit link lain. Kalau sudah turun, sesuai dengan hasil penelitian, arahnya akan naik kembali. Sudah turun, akan terus naik lagi.
Bagaimana pun, kita hanya menawarkan tingkat bunga sesuai dengan yang telah disetujui oleh Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan. Barangkali, untuk sementara waktu memang hasil perkiraan ini lebih mendekati, di mana tentunya kita berharap lebih.
Apakah ada yang berharap memiliki perlindungan yang lebih pasti? Tidak ada perlindungan yang mutlak sempurna di jaman ini. Tetapi kita semua berhak untuk mendapatkan informasi yang paling tepat, tanpa ditutup-tutupi. Kiranya semua ini mendatangkan ketenteraman hati bagi kita sekalian.
Salam sukses!
Saturday, March 15, 2008
Sequis RePro Agency Website
http://www.sequis-reproagency.com
Silakan kunjungi website kami, juga dipromosikan. Ada banyak hal yang bisa didapatkan di sana! Dengan begitu, blog Blue Ocean Networking akan lebih banyak berisi artikel yang spesifik.
Sunday, February 24, 2008
Investasi Yang Lebih Baik
Saat ini kita mempunyai prakiraan ekonomi (economic outlook) yang lumayan buruk. Kondisinya cukup runyam, karena harga minyak bumi benar-benar menembus batas psikologis US$ 100 per barrel. Seminggu ini merupakan hari-hari yang menegangkan dan menyusahkan bagi para analis dan pemodal, di mana fundamental ekonomi Indonesia turut mendapat tekanan berat. Akibatnya, kita semua melihat bagaimana APBN direvisi kembali, dengan perubahan asumsi-asumsi. Harga minyak bumi diasumsikan rata-rata mencapai US$ 83 per barrel di tahun 2008. Di saat yang sama, asumsi target penyedotan minyak bumi (lifting) diturunkan menjadi 910.000 barrel per hari, dari tadinya di atas satu juta. Ini dibuat karena kenyataannya penyedotan minyak ya sebanyak itu.
Investasi apa yang lebih baik? Kondisi sulit, pasar susah ditebak...
Saya mengecek berapakah Nilai Aktiva Bersih dari Equity Fund Sequislife. Tanggal 21 Februari 2008 besarnya: Rp 13.497,21. Ini naik 1,84% dari hari sebelumnya, Rp 13.254,56. Perlu dicatat; harga tertinggi sebelum NAB turun adalah Rp 13.686. Ini berarti posisi di tanggal 21 Februari sudah tidak terlalu jauh lagi.
Artinya: di saat semua sedang memikirkan tentang penurunan, kenyataannya Equity Fund mengalami kenaikan. Coba lihat seperti apa indeks Bursa Efek Indonesia, atau disebut juga Jakarta Composite Index (^JKSE). Untuk melihatnya, bisa memakai Yahoo! Finance (http://finance.yahoo.com/q/bc?s=%5EJKSE). Wow, di saat hampir semuanya jatuh, nyatanya indeks ini masih mengalami kenaikan. Lihat pada kecenderungannya, dalam grafik kita bisa melihat bahwa arahnya masih positif. Itulah sebabnya, kita masih mendapatkan NAB yang membaik, betapapun berita-beritanya buruk.
Kenapa bisa begitu? Karena, sifat dan kemampuan mendapatkan laba dari perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Secara bersama-sama, semuanya masih mendapatkan untung, walaupun kondisi di luar merugi. Itu memberikan suatu pertanda: betapapun juga, kekuatan lokal harus diperhitungkan. Mungkin saja secara global, kondisinya memburuk, tetapi fundamental negara berbeda dari fundamental perusahaan. Gangguan pada APBN memang berat bagi sejumlah besar pengusaha, namun untuk banyak perusahaan publik, keadaannya tidak seberat atau separah itu. Ambil saja contoh, PT Telkom Tbk. Semua bisa ramai-ramai, tetapi perusahaan ini masih tetap saja untung, bukan?
Tidak ada yang tahu, berapa lama akan menjadi seperti ini. Satu hal yang kita ketahui, bahwa kita perlu mengambil kesempatan ini untuk melindungi masa depan kita. Jangan ragu-ragu untuk berinvestasi, selama kita masih diberi kemampuan lebih. Sukses bagi kita sekalian!
Powered by Qumana
Saturday, February 23, 2008
Investasi Bukan Pilihan, Melainkan Keharusan
Sebuah berita dari Antara tersaji sebagai berikut (http://antara.co.id/arc/2008/2/1/inflasi-januari-2008-tertinggi-selama-4-tahun-terakhir/):
01/02/08 17:58
Inflasi Januari 2008 Tertinggi Selama 4 Tahun Terakhir
Jakarta (ANTARA News) - Inflasi Januari 2008 yang mencapai 1,77 persen tergolong paling tinggi selama empat tahun terakhir, terutama didorong oleh kenaikan harga di kelompok bahan makanan yaitu 2,77 persen dan kelompok sandang sebesar 2,31 persen serta di kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 2,02 persen.
....
Artinya apa? Ini berarti, secara fundamental rakyat Indonesia kembali harus berfokus pada kebutuhan mendasar: makanan, pakaian, dan tempat tinggal, sebelum dapat memikirkan hal lain. Tekanan pada sisi yang mendasar ini membuat orang tidak dapat berpikir untuk berbelanja hal lain, mengkonsumsi barang-barang lain. Akibatnya, 'barang-barang lain' menjadi tidak laku. Toko yang menjualnya mengalami kerugian, stok menumpuk. Lalu distributornya akan menghadapi penjualan yang melambat, stok mereka lebih banyak lagi. Dan akhirnya, pabrik kehilangan order, padahal mereka sendiri punya banyak stok bahan baku.
Kalau stok banyak, perputaran uang melambat dan berhenti, akan muncul masalah arus kas yang besar. Orang yang menaruh barang akhirnya harus membayar kepada pemasoknya, tapi mereka tidak punya uang. Mau mengembalikan barang juga tidak diterima, karena pemasok sendiri pun punya sediaan barang menumpuk di gudang; lagipula barang yang dikembalikan seringkali tidak layak untuk dijual lagi. Yang ada adalah tagihan yang harus dibayar... tapi tidak bisa, uangnya terbatas. Akhirnya, utang dibayar hanya separuhnya saja, daripada tidak dapat uang sama sekali. Perusahaan-perusahaan mengalami kerugian.
Kalau rugi, lantas bagaimana membayar gaji? Tidak bisa. Kalau dibayar pun, mungkin sekali ada pemotongan. PHK terjadi di mana-mana. Ini membuat lebih banyak lagi orang yang tidak punya uang, lebih sedikit lagi ekonomi bisa berjalan...
Seandainya hal semacam ini terjadi pada SELURUH sektor usaha, maka yang terjadi adalah RESESI. Kalau hanya terjadi di beberapa sektor usaha saja, belum menjadi resesi tetapi jelas ada masalah di sana. Inflasi tinggi TIDAK SAMA dengan resesi, tetapi dapat membuat beberapa bidang mengalami kesulitan besar. Mungkin bukan resesi, tapi juga tidak memberikan pertumbuhan gaji untuk banyak orang. Apa yang dapat kita temukan di sini?
Secara makro, pertumbuhan ekonomi mungkin nampak bagus. Tapi, pertumbuhan ekonomi dilihat dari besarnya transaksi ekonomi yang terjadi, bukan tentang ke mana uang beredar. Kalau perusahaan untung, tidak berarti semua karyawannya mendapat kenaikan gaji. Bagaimana posisi kita, jika hanya menjadi karyawan? Kalau keadaan menguntungkan, yang paling untung adalah pemegang saham. Kalau keadaan sukar, yang paling berat adalah karyawan. Lalu seperti apa masa depan orang-orang yang menerima gaji?
Baiklah, jika kita bukan karyawan, maka bukan gaji yang kita terima. Kita jadi pengusaha...dan keadaan kita tergantung dari sektor usaha. Kalau usaha kita ada di bidang yang tetap aktif, kita cukup aman. Namun, jika usaha kita berada di sektor yang sedang mengalami stagnasi, jadi pengusaha malah lebih berat. Bukan saja tidak terima gaji, malah harus menanggung beban usaha, membayar stok yang menumpuk tidak terjual!
Sekarang, masa depan akan datang, tidak peduli apa pun kondisi hari ini. Kita semua menjadi semakin tua, dengan perubahan-perubahan yang menyertainya. Melihat keadaan sekarang, dapatkah kita menentukan kemampuan kita untuk mengumpulkan sejumlah besar uang dalam waktu singkat? Kecuali kita berada pada posisi yang baik sekali -- sesuatu yang hanya dimiliki oleh 3%-5% penduduk Indonesia -- kita adalah bahaya kehancuran secara finansial.
Apa solusinya? Kita harus berinvestasi. Sekarang, berinvestasi bukan lagi suatu pilihan dari bentuk menabung. Berinvestasi adalah keharusan yang tidak dapat dielakkan siapa saja yang masih berharap untuk bertahan dalam sistem ekonomi modern. Dengan berinvestasi, kita masih dapat menikmati hasil dari pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dengan mengambil posisi sebagai investor di pasar modal, sekalipun bentuknya hanya sebagai pemilik unit link. Selagi sekarang ini masih ada tabungan untuk dikonversi menjadi investasi, lakukan sekarang!
Besok, ketika tabungan sudah benar-benar habis, mau berinvestasi pun tidak sanggup lagi. Berinvestasilah sekarang, selamatkan masa depan rakyat negeri ini!
Powered by Qumana
Tuesday, February 12, 2008
RePro NEO
Mulai tahun 2008, kita mempunyai sesuatu yang baru, yang menarik. Namanya RePro NEO
Pertama-tama, pikirkanlah hal ini: bagaimana seseorang dapat memutuskan untuk menjadi pebisnis dalam Savingplus? Ia tentu memerlukan pengarahan-pengarahan mendasar. Cara kerja. Aturan main. Singkatnya, segala sesuatu yang ia perlukan untuk memulai bisnis baru ini. Tidak terlalu panjang, tidak seperti RePro Basic Course yang cukup panjang, tapi sudah cukup untuk menolong setiap orang mulai mengundang dan melihat bagaimana mudahnya menjalankan bisnis ini.
Untuk itu, kami menyediakan NEO: New Executives Orientation. Kata NEO juga berarti hal baru, suatu pembaharuan, suatu perkembangan. Dengan mengikuti RePro NEO, seseorang diperbaharui untuk masuk dalam bisnis yang luarbiasa: Savingplus.
Ok, NEOs, selamat memulai bisnis yang cerah ini!
Salam sukses!
Donny A. Wiguna
Powered by Qumana
Monday, January 21, 2008
Resesi?
Awal tahun 2008 diisi dengan berita-berita yang mengejutkan, sekaligus membuat cukup banyak orang merasa panik. Isi dari berita itu adalah: resesi. Di bulan Januari 2008, harga minyak bumi sempat menyentuh angka US$ 100 per barrel, walau segera turun lagi. Lalu ada laporan keuangan kuartal keempat 2007 yang menunjukkan kerugian lembaga-lembaga besar di Amerika. Tambah lagi dengan tingkat pengangguran yang tinggi di negeri Paman Sam ini, dan dijatuhi bencana-bencana yang parah, badai, banjir, dan musim dingin yang dahsyat.
Akibat dari semua kondisi ini, produktivitas di Amerika menurun. Pasar sahamnya anjlok, merembet pada semua pasar saham lain di dunia. Pasar saham di negara kita turut terpengaruh, membuat IHSG anjlok cukup dalam. Ketika minggu lalu Citigroup mengumumkan kerugiannya di kuartal keempat US$ 9,83 MILYAR (atau kira-kira Rp 85 TRILIUN), pasar mengalami goncangan keras. Seberapa banyak kita harus takut?
Mari kita lihat. Yang pertama, ternyata pertumbuhan di Indonesia masih cukup tinggi. Sejumlah analis mengharapkan pertumbuhan ekonomi 2008 mencapai 7% (atau kurang sedikit dari angka ini). Bank Indonesia meluncurkan paket-paket untuk mendorong kredit kepada usaha menengah, sehingga dengan agunan yang sama bisa diperoleh modal yang lebih besar. Dengan semua ini, diharapkan jumlah pengangguran yang lebih dari 10 juta orang di akhir tahun dapat diserap pada lapangan kerja baru. Sementara itu, BI bersama Pemerintah bertekad untuk mempertahankan angka inflasi tahun 2008 sebesar 5% +/- 1% di tahun 2008, lalu 4,5% +/- 1% di tahun 2009, dan 4% +/- 1% di tahun 2010. Kalau ada pekerjaan dan inflasi rendah, maka daya beli masyarakat meningkat, konsumsi meningkat, dan perekonomian juga meningkat. Itu teorinya.
Dalam praktek, kita lihat bahwa bursa saham kita masih didominasi oleh saham-saham bluechips, yang dikeluarkan emiten besar seperti Telkom, BCA, dan Astra. Ada sesuatu yang menarik untuk diperhatikan di sini: betapa pun keadaan ekonomi naik dan turun, perusahaan-perusahaan ini hampir selalu meraih laba setiap tahun. Kenapa? Karena, masih banyak perusahaan yang menjalankan monopoli dan oligopoli di Indonesia. Telepon kabel di rumah, sampai hari ini nyatanya masih dimonopoli Telkom. Urusan mobil, pemain terbesarnya masih Astra. Urusan bank, pemain terbesarnya masih BCA. Masih lama waktunya sebelum ada pesaing-pesaing menggerogoti keuntungan mereka.
Sebegitu besar keuntungannya, sehingga pemilik saham Telkom merasa berkepentingan mengendalikan persaingan. Mereka adalah perusahaan Temasek dari Singapura, yang mendapatkan untung besar setelah membeli mayoritas saham Telkom. Untuk memperbesar keuntungan, mereka juga membeli banyak saham Indosat -- pesaing terdekat Telkom. Kemudian, perkembangan dan agresivitas Indosat ditahan, agar Telkom tetap untung. Praktek ini diketahui Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), yang kemudian menjatuhkan hukuman kepada Temasek dan Telkom diharuskan menurunkan harga. Ramai, sangat ramai.
Indonesia juga masih mempunyai banyak komodita, berupa bahan-bahan tambang dan hasil-hasil pertanian, yang sangat dicari orang. Apalagi di India dan China, yang sekarang ini pertumbuhan industrinya bukan main pesat. Ekspor Indonesia pun sekarang lebih banyak mengalir ke Asia daripada ke Amerika, sehingga sebenarnya penurunan order dari Amerika tidak terlalu berakibat fatal. Memang turun, memang untuk banyak pengusaha jadinya cukup merugikan, tapi secara keseluruhan tidak sampai 'membunuh' pasar. Masih ada surplus dari ekspor Indonesia ke negara-negara Asia dan Timur Tengah, memberikan keuntungan yang signifikan.
Faktor lainnya adalah kenyataan bahwa Pemerintah sampai hari ini masih lebih banyak melindungi pasar modal ketimbang pasar riil. Kita bisa lihat bagaimana jadinya dengan produk pertanian, seperti kedelai, jagung, dan minyak kelapa sawit (CPO = Crude Palm Oil). Sedikit latar belakang: satu dekade lalu, pertanian di Amerika surplus kedelai. Di sana ada panen kedelai yang berlimpah, sehingga diekspor ke seluruh dunia. Kedelai ini juga masuk ke Indonesia dan harganya lebih murah daripada produksi kedelai dalam negeri.
Kalau sudah begini, petani tidak mau rugi terus menerus menanam kedelai yang harganya murah. Jadi, banyak petani mengalihkan lahannya menanam tanaman lain. Soal lain di balik ini adalah: ada kecenderungan untuk melindungi perusahaan yang mengimpor kedelai, sehingga kran impornya dibuka lebar, membuat petani Indonesia harus bersaing langsung dengan pasar global. Pemerintah jelas lebih melindungi kepentingan pemodal yang terlibat di sini.
Beberapa waktu kemudian, terjadilah perang Amerika melawan terorisme. Sejak saat itu harga minyak bumi mulai melambung, karena di saat yang sama ekonomi China melonjak tajam, sehingga dari negara pengekspor kini berbalik menjadi pengimpor. Untuk mempertahankan suplai minyak, di Amerika mulai diproduksi bahan bakar alternatif yang dibuat dari jagung. Kini jagung bukan hanya untuk konsumsi manusia, tapi juga jadi konsumsi mesin. Tentu saja, harga jagung melonjak tajam. Kita mengalami saat-saat di mana kenaikan jagung menyebabkan kenaikan harga pakan ternak (karena lebih dari 50% komposisi makanan ternak adalah jagung), dan ujung-ujungnya kenaikan harga daging dan telur di pasar.
Begitu harga jagung melonjak, banyak petani di Amerika beralih dari kedelai kini menanam jagung, karena lebih menguntungkan. Selebihnya masih menanam kedelai, karena memang sudah mempunyai pasar. Sayangnya, keadaan cuaca membuat panen, semua panen, terganggu. Panen gandum, panen kedelai, dan banyak bahan makanan lain rusak karena kondisi alam yang terjadi di seluruh Amerika Utara dan Kanda, juga di Australia. Karuan saja, harga kedelai meningkat tajam, dalam 1 tahun kenaikannya 100%. Hari ini, harga kedelai menjadi tinggi, demikian juga dengan harga terigu.
Sementara itu, di negara tropis pun konversi bahan bakar alternatif dari tanaman terus berjalan, bukan dari jagung melainkan minyak kelapa sawit. CPO kini diminati karena dapat diubah menjadi biodiesel yang berkualitas tinggi. Seperti jagung, demikian juga harga CPO -- yang jadi bahan baku minyak goreng -- menjadi semakin tinggi dari hari ke hari. Satu pemantauan di pasar menunjukkan kenaikan harga minyak goreng curah sebesar Rp300-Rp500 per kg. Semua ini menekan pasar riil, menekan kebutuhan dasar banyak orang di Indonesia. Siapa yang untung? Perusahaan!
Jadi, sementara pasar riil tertekan, sebaliknya perusahaan-perusahaan yang mengelola semua transaksi ini mengalami keuntungan, dan mereka kemudian masuk ke pasar modal / go-public untuk mendapatkan lebih banyak permodalan, membangun lebih banyak pabrik. Tidak sulit untuk melihat bahwa kenaikan di pasar modal telah membawa bursa Indonesia menjadi yang terbesar di luar China. Siapa yang untung? Sebagian besar investor di bursa adalah orang-orang asing. Kenaikan ini menggembirakan orang dari Singapura, dari Malaysia, dari Australia, dari Amerika, dari mana saja.... sayangnya, rakyat Indonesia sendiri tidak tahu dan tidak kebagian berinvestasi, karena tidak tahu caranya atau tidak punya cukup modal.
Tahun 2008 mungkin akan menjadi buruk bagi pasar riil, dengan masalah bahan makanan, masalah energi -- kelangkaan minyak, gas LPG, dan proses konversi minyak tanah yang kontroversial. Untuk perusahaan-perusahaan kecil yang tidak mempunyai basis yang kuat, manajemen yang baik, rasanya sukar sekali bertahan. Hanya usaha-usaha yang fundamental: makanan, kesehatan, pendidikan, telekomunikasi, dan transportasi, yang masih dapat bertahan dan membesar. Tetapi untuk perusahaan besar, semua yang masuk ke pasar modal, masih ada harapan yang tinggi. IHSG diperkirakan masih akan naik hingga melampaui angka 3000.
Dapatkah kita melawan arah? Bagaimana dengan orang-orang yang ada di papan menengah, apa yang dapat mereka lakukan untuk tetap memenuhi kebutuhan-kebutuhan penting dalam jangka panjang?
Semakin penting bagi kita semua untuk memahami investasi, reksa dana, dan unit link, sebagai cara untuk tetap mendapatkan bagian keuntungan dari pasar modal, sementara kita sendiri tidak mempunyai akses langsung atau modal yang besar ke sana. Dengan berada di reksa dana secara pasif, investor pada equity fund masih mendapat lebih dari 50% dalam jangka waktu 1 tahun 2007. Seandainya return tahun 2008 di bawah itu, rasanya tidak akan kurang dari 30%, apalagi kalau benar inflasi bisa ditekan dan pertumbuhan ekonomi mencapai 7% seperti yang direncanakan.
Sekarang masalahnya adalah waktu; seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memberitahu, mengajarkan, sampai orang memahami dan memutuskan? Investasi berkaitan erat dengan waktu, semakin cepat semakin baik. Tetapi berinvestasi tanpa pemahaman adalah hal yang berbahaya, karena sekarang ini banyak juga tawaran-tawaran yang kelihatan menggiurkan tetapi sebenarnya menjebak orang dalam kerugian.
Selamat berinvestasi, mumpung sekarang NAB sedang turun. Ingatlah, hanya dengan 500 ribu rupiah pun cukup, jadi mengapa harus menunggu sampai bisa berinvestasi ratusan juta?
Salam sukses,
Donny
Powered by Qumana
Tuesday, December 18, 2007
Economic Outlook 2008 -- by RePro Agency (c)Donny A. Wiguna
Nampaknya kita dapat menutup tahun 2008 dengan penuh sukacita. Dengan pertumbuhan makro ekonomi yang baik, kemungkinan besar kita mendapatkan pertumbuhan nilai aktiva bersih tidak kurang dari 50%. Contohnya, jika seseorang berinvestasi Rp 10 juta pada tanggal 1 Januari 2007, maka kita dapat memperkirakan bahwa investasinya pada tanggal 31 Desember 2007 telah bernilai lebih dari Rp 15 juta, sebelum dikurangi biaya-biaya, kalau ada. Tentu saja, biaya asuransi yang dikenakan akan tergantung dari tingkat proteksi yang diberikan, tapi itu jauh lebih kecil dengan manfaat yang diterimanya. Secara keseluruhan, akhir tahun 2007 ini nampak menguntungkan. Bagaimana dengan tahun 2008?
Saya baru-baru ini menghadiri sebuah seminar dengan pembicara ahli ekonomi dari Universitas Parahyangan. Ada banyak hal penting yang disampaikan, namun saya ingin membagikan beberapa hal yang mungkin sangat relevan untuk kita perhatikan, sekaligus memberi gambaran tentang keadaan ekonomi di tahun 2008.
Pertama-tama, kita perlu memahami keadaan ekonomi secara global saat ini. Ekonomi dunia telah saling terhubung sedemikian rupa -- berterima kasih kepada jaringan komunikasi global -- sehingga transaksi ekonomi tidak lagi mengenal batas-batas waktu dan jarak. Informasi yang berkaitan pun dapat disebar-luaskan dengan kecepatan yang 50 tahun lalu tidak pernah terbayangkan orang (kecuali para ilmuwan yang mengerjakan proyek-proyek komunikasi). Pertukaran informasi memungkinkan transaksi dan perpindahan uang yang luar biasa cepat, dana-dana dapat berpindah dari satu benua ke benua lain hanya dalam waktu hitungan jam saja.
Pergerakan uang ini tidak dapat diimbangi oleh pergerakan barang, baik ketika barang dihasilkan maupun diperdagangkan. Sebagai gantinya, kini jasa / usaha pelayanan menjadi lebih banyak berperan. Kalau dahulu orang lebih banyak memikirkan "barang apa yang harus diproduksi" sebagai dasar dari usaha, ekonomi baru membahas tentang "nilai tambah apa yang harus diberikan". Demikianlah kita melihat pergerakan dari industri-industri manufaktur menjadi lebih rendah di tahun 2007, sementara industri yang berkecimpung dalam bidang jasa justru melonjak amat tinggi: jasa keuangan / perbankan, jasa telekomunikasi, jasa Tekonogi Informasi, serta berbagai bentuk konsultasi lainnya. Salah satu penelitian menunjukkan bahwa penghasilan tenaga pemasaran yang tertinggi ada dalam bidang keuangan, asuransi, dan telekomunikasi. Kita pun dapat mengamati: perusahaan-perusahaan apa yang paling hebat memberikan hadiah-hadiah, sementara tetap membukukan keuntungan yang luar biasa? Telekomunikasi dan perbankan!
Bagaimana dengan usaha yang memproduksi barang? Sekarang ini kata kuncinya bukan lagi sekedar "Kualitas", "Harga", "Kecepatan Pengiriman", "Ketersediaan", "Kadaluarsa", atau jargon lain yang banyak diangkat orang 30 tahun lalu, ketika Total Quality Control masih sangat populer. Saat ini yang dicari orang adalah "Nilai Tambah", betapa pun mungkin kualitas produknya tidak amat sangat baik dibandingkan pesaing. Bagi yang suka memperhatikan mainan anak-anak (atau mainan orang dewasa juga?), pasti tahu adanya PlayStation dan XBox. Nah, sekarang PlayStation sudah meluncur versi 3, demikian juga dengan XBox yang menyainginya -- versi mutakhir tampil dengan grafis yang lebih baik, kecepatan prosesor lebih tinggi, memori lebih besar, dan dilengkapi harddisk besar. Siapa yang memenangkan persaingan? Ternyata pemenangnya adalah Nintendo Wii, yang kualitas grafisnya biasa saja, prosesor tidak terlalu hebat, jelas kalah dari PS3 dan XBox. Ada apa gerangan? Wii memberikan nilai tambah yang tidak diberikan peralatan yang lebih canggih itu. Wii membuat orang bisa memainkan game yang 'biasa' seperti tenis, dengan interaktivitas mendekati aslinya. Siapa yang tidak penasaran? Sekarang ini permintaan Wii jauh melampaui penyediaannya. Nintendo kembali menjadi pemenang dalam arena!
Kita melihat tuntutan "Nilai Tambah" ini ada di mana-mana. Di Bandung, sekarang ini bermunculan banyak Distro, berdampingan dengan FO yang sudah lebih dahulu menjamur. Apa istimewanya Distro sehingga diserbu orang walaupun baju yang dijualnya begitu-begitu saja? Distro memberikan nilai tambah dengan mengangkat identitas kelompok pembelinya. Ada Distro untuk pencinta alam, Distro untuk Skaters, Distro untuk Surfers, dan sebagainya. Banyak anak muda yang membuat kategori baru atas identitas mereka, dan Distro memberikan produk-produk dengan ciri khas tertentu. Orang bukan membeli baju, melainkan membeli suatu citra yang diinginkannya. Itulah suatu nilai tambah.
Bagaimana dengan perumahan? Kalau melihat beberapa pengembang real estate papan atas, mereka juga mulai membuat pendekatan lingkungan. Kini orang bukan hanya membeli 'rumah', melainkan ingin membeli 'lingkungan'. Pengembang membuat nilai tambah dengan menyediakan banyak lahan hijau untuk resapan air, menanam banyak pohon besar yang rindang, membuat sistem sanitasi, bahkan tempat pengelolaan sampah yang mutakhir. Penduduk kompleks pun diminta untuk lebih baik mengelola lingkungan, antara lain menjaga pepohonan dan ikut memisah-misahkan sampah -- dan mereka menyukainya. Itu pun adalah nilai tambah, yang masih belum terpikirkan oleh banyak pengembang tradisional yang masih berkutat dengan desain rumah apa yang paling disukai, membangun sebanyak-banyaknya di atas kapling yang ada.
Baiklah, kalau begitu apa nilai tambah yang dapat kita berikan di tahun 2008? Tahun 2008 ditandai dengan tiga hal:
Yang pertama adalah kesadaran orang akan besarnya kesulitan ekonomi yang dapat terjadi. Kenaikan dan penurunan harga minyak dunia memberikan pengertian, bahwa sebenarnya kita ini sangat rapuh. Ekonomi yang semula nampak besar, seperti ekonomi Amerika, ternyata mengandung 'gelembung' yang bisa pecah tanpa terduga, menjadi kasus kredit macet dari subprime mortgage yang efeknya mendatangkan kerugian tidak kurang dari US$ 300 MILYAR. Lebih dari satu juta orang Amerika kehilangan rumahnya karena tidak sanggup membayar cicilan yang lebih mahal daripada kesanggupan financialnya. Di saat yang sama, orang juga mulai menyadari adanya penguasa-penguasa ekonomi dunia, yaitu para individu yang memiliki nilai investasi sedemikian besarnya, sehingga keputusan 1 orang dapat mempengaruhi sebuah negara. Kerja sama dari beberapa orang 'penguasa' dapat membangkitkan dan menjatuhkan pasar sekehendak hati mereka -- dan di sanalah mereka mendapatkan keuntungan yang fantastis. Konon tingginya harga minyak pun adalah suatu rekayasa -- karena kalau dilihat sebenarnya tingkat permintaan dan penyediaan minyak tetap berimbang, tak ada alasan langsung bagi kenaikan harga minyak sampai $100 per barrel.
Di dalam negeri, kita melihat adanya disintegrasi antara ekonomi makro dengan mikro. Antara pasar modal dengan dunia bisnis riil. Secara makro, pemerintah telah menurunkan BI Rate beberapa kali di tahun 2007, terakhir menjadi 8%. Secara makro, penurunan ini membuat naiknya saham, sekali lagi kita melihat kenaikan IHSG (dan tentu saja kenaikan NAB dari unit equity fund kita!). Tapi secara mikro, tidak terjadi peningkatan penyaluran kredit secara signifikan, khususnya kredit usaha. Kenapa? Karena Bank saat ini lebih ketat memanajemen resiko yang harus ditanggungnya. Berusaha di Indonesia mempunyai resiko yang tinggi, pula sukar untuk mempercayai orang. Sekarang ini kredit perbankan masih didominasi oleh kredit konsumsi, itupun dengan jumlah kredit macet yang semakin tinggi. Akibatnya, perbankan masih lebih banyak mengandalkan instrumen seperti SBI untuk menumbuhkan uangnya. Jumlah SBI yang dikeluarkan telah mencapai angka Rp 200 TRILIUN, di mana Pemerintah (BI) berbeban untuk memberi bunga hingga Rp 17 TRILIUN. Ini bukan jumlah yang statis, sebaliknya menjadi semakin tinggi. Bagaimana jika SBI kelak mencapai Rp 1000 TRILIUN?
Kalau ada orang masih berpikir bahwa ekonomi masih tetap sehat-sehat saja, barangkali ia harus segera mempelajari keadaan, agar mengerti bahwa rakyat Indonesia menghadapi kesulitan-kesulitan baru, yang tidak pernah dihadapi orang tua kita sebelumnya. Dengan memahami kesulitan di depan mata di tahun 2008, sebenarnya kita bisa memberikan NILAI TAMBAH dari produk yang kita pasarkan. Kita mampu memberikan pilihan-pilihan yang lebih baik, lebih tepat untuk masyarakat. Orang akan datang mencari kita untuk mendapatkan penjelasan bagaimana harus bersikap dalam keadaan ekonomi saat ini.
Yang kedua adalah kesadaran orang akan masalah pemanasan global dan perubahan iklim. Ini adalah 'kuda hitam' dalam ekonomi, yang mendadak bisa menyerbu masuk benteng-benteng ekonomi yang semula dianggap aman. Bagi orang Indonesia, hal ini seharusnya disikapi dengan lebih serius, karena dalam kenyataannya Indonesia adalah negara agraris, yang sumber kekayaannya berasal dari hutan, pertanian, perikanan, dan pertambangan. Negara kita bukanlah negara industri, yang sanggup membuat produk berteknologi. Walaupun nampaknya banyak orang berusaha membangun pabrik, tetapi semua itu tumbuh tanpa pemahaman dan perencanaan jangka panjang yang kuat. Otonomi daerah membuat keadaan menjadi semakin parah, karena sekarang para Pemerintah Daerah turut berlomba mendapatkan pemasukan asli daerah -- bukan untuk membangun daerahnya, melainkan tujuan-tujuan jangka pendek dalam ekonomi dan politik. Daerah mana yang secara serius memikirkan rancangan ekonomi? Bahkan Menko Ekuin mengakui bahwa sampai sekarang belum ada perencanaan perekonomian secara menyeluruh bagi Indonesia!
Jadi, sejak Repelita III semuanya keluar jalur. Demi membangun gengsi, banyak orang membuat pabrik yang menghasilkan produk jadi, yang langsung terlihat kemasannya di pasar, kelihatan keren, hebat, membanggakan. Tapi siapa yang membuat pabrik untuk menghasilkan bahan baku? Sedikit sekali. Ditambah lagi adanya campur tangan langsung dari Pemerintah, menciptakan sistem monopoli yang membuat penghasil bahan baku hanya itu-itu saja, dengan kapasitas terbatas. Dalam urusan minyak, misalnya, Pertamina sudah lama memegang monopoli, tapi yang dibelinya adalah kapal-kapal tanker (lantas pengadaannya jadi kasus korupsi), bukan membangun lebih banyak pengilangan. Karena kilang minyak kebanyakan ada di luar negeri, kita terpaksa mengimpor BBM dengan harga internasional, padahal Indonesia sendiri adalah eksportir minyak bumi dengan kualitas tinggi.
Orang sepertinya lupa, bahwa yang banyak adalah tanah dan airnya, yang harusnya dikelola adalah hutan dan ladangnya. Yang terjadi, pemerintah sedemikian sibuk mengurusi pabrik-pabrik tapi mengabaikan pengelolaan hutan, mengabaikan pengelolaan tanah, dan membiarkan laut Indonesia dikuras karena tidak ada cukup dana untuk membiayai penjaga perairan, dengan Angkatan Laut yang kecil dibandingkan luas lautan yang harus dijaga. Sekarang dunia menghadapi ancaman pemanasan global, siapakah yang seharusnya merasa paling terancam? Seharusnya rakyat Indonesia! Karena perubahan iklim membuat pertanian gagal, membuat sumber kehidupan sebagian besar rakyat Indonesia terganggu. Kalau petani tidak lagi bisa memenuhi kebutuhan keluarganya, salahkah jika ia kemudian masuk hutan dan mencari sedikit penyambung hidup dengan menebang pohon? Demikianlah kita melihat para perambah hutan di Indonesia menjadi semakin banyak. Pemerintah pun tidak berbuat banyak ketika mereka memasuki areal hutan lindung dan taman nasional untuk membuka ladang bercocok tanam.
Perubahan iklim juga menimbulkan lebih banyak bencana, baik yang dikategorikan sebagai 'bencana alam' maupun 'musibah' yang harus dihadapi orang. Dengan begitu, tingkat resiko hidup orang Indonesia pun menjadi semakin tinggi, baik karena penyakit yang timbul setelah bencana, maupun naiknya kemungkinan orang-orang mengalami kecelakaan. Kita tentu saja berharap ini semua tidak terjadi -- kita bisa lihat bagaimana Sequis Life secara aktif mendukung penyelamatan bumi dari pemanasan global. Tapi, dalam kenyataannya tingkat resiko memang meningkat.
Kita di tahun 2008 dapat memberikan nilai tambah dengan menawarkan proteksi-proteksi yang memiliki tingkat kepastian absolut. Ini adalah produk-produk asuransi tradisional, yang terlindung dari gejolak akibat perubahan alam. Dalam investasi, selalu ada faktor resiko, termasuk resiko gagalnya investasi. Keadaan yang lebih beresiko menuntut orang memanajemen resikonya dengan mengalihkan pada asuransi, di mana asuransi itu sendiri harusnya tidak beresiko terhenti karena keadaan. Jika kita bisa menjelaskannya dengan baik, kita memberikan nilai tambah dalam rasa aman bagi keluarga Nasabah.
Yang ketiga, tahun 2008 adalah tahun terakhir pemerintahan sekarang ini, menjelang Pemilu di tahun 2009. Karena tekanan politik, maka kita bisa melihat bahwa ada usaha-usaha ekstra dari Pemerintah -- di sinilah "rapor" dari partai yang berkuasa dan kinerja Presiden dipertaruhkan. Dalam beberapa ukuran, pertama-tama kita bisa lihat bahwa Pemerintah akan berusaha agar pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai target minimal 6,8%. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi, semakin besar juga lapangan kerja baru tersedia. Pemerintah berusaha keras agar jumlah penganggur yang saat ini telah lebih dari 10 juta orang dapat dikurangi secara signifikan.
Untuk itu, Pemerintah juga akan berusaha keras menekan inflasi. Dalam dua tahun terakhir, inflasi kira-kira ada di bawah 7% (tahun 2006 6,6% dan 2007 diperkirakan 6,8%). Target Pemerintah untuk tahun 2008 adalah inflasi 5% plus minus 1% (atau dengan kata lain, antara 4% - 6%). Tingkat inflasi yang rendah berarti stabilnya daya beli uang, sehingga orang terdorong untuk melakukan usaha-usaha baru, atau melakukan ekspansi-ekspansi usaha yang ada. Ini tentu menjadi rapor bagus bagi Pemerintah untuk ditunjukkan pada tahun 2009, di mana orang akan habis-habisan berkampanye. Baru nanti, di tahun 2010, Pemerintahan baru yang harus membereskan sampah-sampah 'pesta demokrasi'.
Apakah keadaan ini bagus bagi semua pihak? Masalahnya, ekonomi bukan melulu soal modal. Ekonomi juga berbicara tentang kepercayaan (trust), dan nampaknya usaha kecil dan menengah masih sukar mendapatkan kepercayaan dari lembaga keuangan untuk mendapatkan permodalan yang ia butuhkan. Alhasil, usaha Pemerintah akan lebih banyak dinikmati oleh perusahaan-perusahaan yang sudah ada, demikian juga dengan rendahnya suku bunga kredit perbankan akan lebih dahulu dinikmati oleh para pengusaha lama yang sudah mapan dan dipercaya. Banyak dari perusahaan ini telah go public sebagai perusahaan terbuka. Apa artinya?
Kita bisa mengharapkan pertumbuhan pendapatan (earnings) dari para emiten saham yang lebih tinggi di tahun 2008. Dengan kenaikan ini, maka harga saham pun akan menjadi semakin tinggi -- jauh melampaui tingkat suku bunga obligasi. Di sisi lain, obligasi yang berjatuh tempo beberapa saat setelah Pemilu tidak begitu bagus, karena siapa yang tahu apakah pemerintahan baru nanti benar-benar dapat dipercaya? Akibatnya, kita bisa memperkirakan pasar saham menjadi lebih tinggi lagi, demikian pula dengan NAB di akhir tahun 2008. Mungkin saat itu, kenaikan investasinya dibanding awal tahun bisa mencapai 60%! Sebuah prediksi dari USB Investment Research mematok indeks harga saham gabungan (IHSG) melesat ke nilai 3050 dalam 12 bulan ke depan.
Kita bisa memberikan nilai tambah dengan penjelasan yang lebih baik, apalagi jika kita memang menguasai bidang-bidang yang selama ini dipakai masyarakat untuk berinvestasi. Nilai tambah dalam keuangan berkaitan dengan pemahaman kita tentang informasi serta hubungan sebab-akibat di dalam informasi itu. Tentu saja, kita terlebih dahulu harus mampu memilih informasi yang benar dari yang salah, yang akurat dari yang asal terdengar bagus. Tahun 2008 akan menjadi tahun yang mengesankan bagi orang-orang yang mampu memberikan nilai tambah. Sebaliknya, tahun 2008 akan menjadi tahun yang buruk bagi mereka yang hanya bekerja 'ala kadarnya' dan berharap bahwa sebuah produk dapat menjual dirinya sendiri.
Apa nilai tambah yang dapat kita berikan di tahun 2008? Kalau kita hanya berjalan sendiri-sendiri, maka tidak banyak yang bisa dilakukan -- apa yang bisa dilakukan oleh seorang manusia saja? Tetapi bersama-sama, sebagai Tim Pemenang, kita dapat memberikan nilai tambah kepada masyarakat, sesuatu yang amat berarti, yang tidak pernah disediakan oleh perusahaan lain, sebagai nilai tambah yang mengubah orang. Saya percaya, hari ini RePro sudah mulai meluncur, Take Off to Infinity.
Tahun 2008, RePro Agency will CHANGE LIVES. That's what we'll do!
Change Lives!
Donny A. Wguna
Powered by Qumana