Monday, January 21, 2008

Resesi?

Awal tahun 2008 diisi dengan berita-berita yang mengejutkan, sekaligus membuat cukup banyak orang merasa panik. Isi dari berita itu adalah: resesi. Di bulan Januari 2008, harga minyak bumi sempat menyentuh angka US$ 100 per barrel, walau segera turun lagi. Lalu ada laporan keuangan kuartal keempat 2007 yang menunjukkan kerugian lembaga-lembaga besar di Amerika. Tambah lagi dengan tingkat pengangguran yang tinggi di negeri Paman Sam ini, dan dijatuhi bencana-bencana yang parah, badai, banjir, dan musim dingin yang dahsyat.


Akibat dari semua kondisi ini, produktivitas di Amerika menurun. Pasar sahamnya anjlok, merembet pada semua pasar saham lain di dunia. Pasar saham di negara kita turut terpengaruh, membuat IHSG anjlok cukup dalam. Ketika minggu lalu Citigroup mengumumkan kerugiannya di kuartal keempat US$ 9,83 MILYAR (atau kira-kira Rp 85 TRILIUN), pasar mengalami goncangan keras. Seberapa banyak kita harus takut?


Mari kita lihat. Yang pertama, ternyata pertumbuhan di Indonesia masih cukup tinggi. Sejumlah analis mengharapkan pertumbuhan ekonomi 2008 mencapai 7% (atau kurang sedikit dari angka ini). Bank Indonesia meluncurkan paket-paket untuk mendorong kredit kepada usaha menengah, sehingga dengan agunan yang sama bisa diperoleh modal yang lebih besar. Dengan semua ini, diharapkan jumlah pengangguran yang lebih dari 10 juta orang di akhir tahun dapat diserap pada lapangan kerja baru. Sementara itu, BI bersama Pemerintah bertekad untuk mempertahankan angka inflasi tahun 2008 sebesar 5% +/- 1% di tahun 2008, lalu 4,5% +/- 1% di tahun 2009, dan 4% +/- 1% di tahun 2010. Kalau ada pekerjaan dan inflasi rendah, maka daya beli masyarakat meningkat, konsumsi meningkat, dan perekonomian juga meningkat. Itu teorinya.


Dalam praktek, kita lihat bahwa bursa saham kita masih didominasi oleh saham-saham bluechips, yang dikeluarkan emiten besar seperti Telkom, BCA, dan Astra. Ada sesuatu yang menarik untuk diperhatikan di sini: betapa pun keadaan ekonomi naik dan turun, perusahaan-perusahaan ini hampir selalu meraih laba setiap tahun. Kenapa? Karena, masih banyak perusahaan yang menjalankan monopoli dan oligopoli di Indonesia. Telepon kabel di rumah, sampai hari ini nyatanya masih dimonopoli Telkom. Urusan mobil, pemain terbesarnya masih Astra. Urusan bank, pemain terbesarnya masih BCA. Masih lama waktunya sebelum ada pesaing-pesaing menggerogoti keuntungan mereka.


Sebegitu besar keuntungannya, sehingga pemilik saham Telkom merasa berkepentingan mengendalikan persaingan. Mereka adalah perusahaan Temasek dari Singapura, yang mendapatkan untung besar setelah membeli mayoritas saham Telkom. Untuk memperbesar keuntungan, mereka juga membeli banyak saham Indosat -- pesaing terdekat Telkom. Kemudian, perkembangan dan agresivitas Indosat ditahan, agar Telkom tetap untung. Praktek ini diketahui Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), yang kemudian menjatuhkan hukuman kepada Temasek dan Telkom diharuskan menurunkan harga. Ramai, sangat ramai.


Indonesia juga masih mempunyai banyak komodita, berupa bahan-bahan tambang dan hasil-hasil pertanian, yang sangat dicari orang. Apalagi di India dan China, yang sekarang ini pertumbuhan industrinya bukan main pesat. Ekspor Indonesia pun sekarang lebih banyak mengalir ke Asia daripada ke Amerika, sehingga sebenarnya penurunan order dari Amerika tidak terlalu berakibat fatal. Memang turun, memang untuk banyak pengusaha jadinya cukup merugikan, tapi secara keseluruhan tidak sampai 'membunuh' pasar. Masih ada surplus dari ekspor Indonesia ke negara-negara Asia dan Timur Tengah, memberikan keuntungan yang signifikan.


Faktor lainnya adalah kenyataan bahwa Pemerintah sampai hari ini masih lebih banyak melindungi pasar modal ketimbang pasar riil. Kita bisa lihat bagaimana jadinya dengan produk pertanian, seperti kedelai, jagung, dan minyak kelapa sawit (CPO = Crude Palm Oil). Sedikit latar belakang: satu dekade lalu, pertanian di Amerika surplus kedelai. Di sana ada panen kedelai yang berlimpah, sehingga diekspor ke seluruh dunia. Kedelai ini juga masuk ke Indonesia dan harganya lebih murah daripada produksi kedelai dalam negeri.


Kalau sudah begini, petani tidak mau rugi terus menerus menanam kedelai yang harganya murah. Jadi, banyak petani mengalihkan lahannya menanam tanaman lain. Soal lain di balik ini adalah: ada kecenderungan untuk melindungi perusahaan yang mengimpor kedelai, sehingga kran impornya dibuka lebar, membuat petani Indonesia harus bersaing langsung dengan pasar global. Pemerintah jelas lebih melindungi kepentingan pemodal yang terlibat di sini.


Beberapa waktu kemudian, terjadilah perang Amerika melawan terorisme. Sejak saat itu harga minyak bumi mulai melambung, karena di saat yang sama ekonomi China melonjak tajam, sehingga dari negara pengekspor kini berbalik menjadi pengimpor. Untuk mempertahankan suplai minyak, di Amerika mulai diproduksi bahan bakar alternatif yang dibuat dari jagung. Kini jagung bukan hanya untuk konsumsi manusia, tapi juga jadi konsumsi mesin. Tentu saja, harga jagung melonjak tajam. Kita mengalami saat-saat di mana kenaikan jagung menyebabkan kenaikan harga pakan ternak (karena lebih dari 50% komposisi makanan ternak adalah jagung), dan ujung-ujungnya kenaikan harga daging dan telur di pasar.


Begitu harga jagung melonjak, banyak petani di Amerika beralih dari kedelai kini menanam jagung, karena lebih menguntungkan. Selebihnya masih menanam kedelai, karena memang sudah mempunyai pasar. Sayangnya, keadaan cuaca membuat panen, semua panen, terganggu. Panen gandum, panen kedelai, dan banyak bahan makanan lain rusak karena kondisi alam yang terjadi di seluruh Amerika Utara dan Kanda, juga di Australia. Karuan saja, harga kedelai meningkat tajam, dalam 1 tahun kenaikannya 100%. Hari ini, harga kedelai menjadi tinggi, demikian juga dengan harga terigu.


Sementara itu, di negara tropis pun konversi bahan bakar alternatif dari tanaman terus berjalan, bukan dari jagung melainkan minyak kelapa sawit. CPO kini diminati karena dapat diubah menjadi biodiesel yang berkualitas tinggi. Seperti jagung, demikian juga harga CPO -- yang jadi bahan baku minyak goreng -- menjadi semakin tinggi dari hari ke hari. Satu pemantauan di pasar menunjukkan kenaikan harga minyak goreng curah sebesar Rp300-Rp500 per kg. Semua ini menekan pasar riil, menekan kebutuhan dasar banyak orang di Indonesia. Siapa yang untung? Perusahaan!


Jadi, sementara pasar riil tertekan, sebaliknya perusahaan-perusahaan yang mengelola semua transaksi ini mengalami keuntungan, dan mereka kemudian masuk ke pasar modal / go-public untuk mendapatkan lebih banyak permodalan, membangun lebih banyak pabrik. Tidak sulit untuk melihat bahwa kenaikan di pasar modal telah membawa bursa Indonesia menjadi yang terbesar di luar China. Siapa yang untung? Sebagian besar investor di bursa adalah orang-orang asing. Kenaikan ini menggembirakan orang dari Singapura, dari Malaysia, dari Australia, dari Amerika, dari mana saja.... sayangnya, rakyat Indonesia sendiri tidak tahu dan tidak kebagian berinvestasi, karena tidak tahu caranya atau tidak punya cukup modal.


Tahun 2008 mungkin akan menjadi buruk bagi pasar riil, dengan masalah bahan makanan, masalah energi -- kelangkaan minyak, gas LPG, dan proses konversi minyak tanah yang kontroversial. Untuk perusahaan-perusahaan kecil yang tidak mempunyai basis yang kuat, manajemen yang baik, rasanya sukar sekali bertahan. Hanya usaha-usaha yang fundamental: makanan, kesehatan, pendidikan, telekomunikasi, dan transportasi, yang masih dapat bertahan dan membesar. Tetapi untuk perusahaan besar, semua yang masuk ke pasar modal, masih ada harapan yang tinggi. IHSG diperkirakan masih akan naik hingga melampaui angka 3000.


Dapatkah kita melawan arah? Bagaimana dengan orang-orang yang ada di papan menengah, apa yang dapat mereka lakukan untuk tetap memenuhi kebutuhan-kebutuhan penting dalam jangka panjang?


Semakin penting bagi kita semua untuk memahami investasi, reksa dana, dan unit link, sebagai cara untuk tetap mendapatkan bagian keuntungan dari pasar modal, sementara kita sendiri tidak mempunyai akses langsung atau modal yang besar ke sana. Dengan berada di reksa dana secara pasif, investor pada equity fund masih mendapat lebih dari 50% dalam jangka waktu 1 tahun 2007. Seandainya return tahun 2008 di bawah itu, rasanya tidak akan kurang dari 30%, apalagi kalau benar inflasi bisa ditekan dan pertumbuhan ekonomi mencapai 7% seperti yang direncanakan.


Sekarang masalahnya adalah waktu; seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memberitahu, mengajarkan, sampai orang memahami dan memutuskan? Investasi berkaitan erat dengan waktu, semakin cepat semakin baik. Tetapi berinvestasi tanpa pemahaman adalah hal yang berbahaya, karena sekarang ini banyak juga tawaran-tawaran yang kelihatan menggiurkan tetapi sebenarnya menjebak orang dalam kerugian.


Selamat berinvestasi, mumpung sekarang NAB sedang turun. Ingatlah, hanya dengan 500 ribu rupiah pun cukup, jadi mengapa harus menunggu sampai bisa berinvestasi ratusan juta?


Salam sukses,


Donny


Powered by Qumana


Tuesday, December 18, 2007

Economic Outlook 2008 -- by RePro Agency (c)Donny A. Wiguna

Nampaknya kita dapat menutup tahun 2008 dengan penuh sukacita. Dengan pertumbuhan makro ekonomi yang baik, kemungkinan besar kita mendapatkan pertumbuhan nilai aktiva bersih tidak kurang dari 50%. Contohnya, jika seseorang berinvestasi Rp 10 juta pada tanggal 1 Januari 2007, maka kita dapat memperkirakan bahwa investasinya pada tanggal 31 Desember 2007 telah bernilai lebih dari Rp 15 juta, sebelum dikurangi biaya-biaya, kalau ada. Tentu saja, biaya asuransi yang dikenakan akan tergantung dari tingkat proteksi yang diberikan, tapi itu jauh lebih kecil dengan manfaat yang diterimanya. Secara keseluruhan, akhir tahun 2007 ini nampak menguntungkan. Bagaimana dengan tahun 2008?


Saya baru-baru ini menghadiri sebuah seminar dengan pembicara ahli ekonomi dari Universitas Parahyangan. Ada banyak hal penting yang disampaikan, namun saya ingin membagikan beberapa hal yang mungkin sangat relevan untuk kita perhatikan, sekaligus memberi gambaran tentang keadaan ekonomi di tahun 2008.


Pertama-tama, kita perlu memahami keadaan ekonomi secara global saat ini. Ekonomi dunia telah saling terhubung sedemikian rupa -- berterima kasih kepada jaringan komunikasi global -- sehingga transaksi ekonomi tidak lagi mengenal batas-batas waktu dan jarak. Informasi yang berkaitan pun dapat disebar-luaskan dengan kecepatan yang 50 tahun lalu tidak pernah terbayangkan orang (kecuali para ilmuwan yang mengerjakan proyek-proyek komunikasi). Pertukaran informasi memungkinkan transaksi dan perpindahan uang yang luar biasa cepat, dana-dana dapat berpindah dari satu benua ke benua lain hanya dalam waktu hitungan jam saja.


Pergerakan uang ini tidak dapat diimbangi oleh pergerakan barang, baik ketika barang dihasilkan maupun diperdagangkan. Sebagai gantinya, kini jasa / usaha pelayanan menjadi lebih banyak berperan. Kalau dahulu orang lebih banyak memikirkan "barang apa yang harus diproduksi" sebagai dasar dari usaha, ekonomi baru membahas tentang "nilai tambah apa yang harus diberikan". Demikianlah kita melihat pergerakan dari industri-industri manufaktur menjadi lebih rendah di tahun 2007, sementara industri yang berkecimpung dalam bidang jasa justru melonjak amat tinggi: jasa keuangan / perbankan, jasa telekomunikasi, jasa Tekonogi Informasi, serta berbagai bentuk konsultasi lainnya. Salah satu penelitian menunjukkan bahwa penghasilan tenaga pemasaran yang tertinggi ada dalam bidang keuangan, asuransi, dan telekomunikasi. Kita pun dapat mengamati: perusahaan-perusahaan apa yang paling hebat memberikan hadiah-hadiah, sementara tetap membukukan keuntungan yang luar biasa? Telekomunikasi dan perbankan!


Bagaimana dengan usaha yang memproduksi barang? Sekarang ini kata kuncinya bukan lagi sekedar "Kualitas", "Harga", "Kecepatan Pengiriman", "Ketersediaan", "Kadaluarsa", atau jargon lain yang banyak diangkat orang 30 tahun lalu, ketika Total Quality Control masih sangat populer. Saat ini yang dicari orang adalah "Nilai Tambah", betapa pun mungkin kualitas produknya tidak amat sangat baik dibandingkan pesaing. Bagi yang suka memperhatikan mainan anak-anak (atau mainan orang dewasa juga?), pasti tahu adanya PlayStation dan XBox. Nah, sekarang PlayStation sudah meluncur versi 3, demikian juga dengan XBox yang menyainginya -- versi mutakhir tampil dengan grafis yang lebih baik, kecepatan prosesor lebih tinggi, memori lebih besar, dan dilengkapi harddisk besar. Siapa  yang memenangkan persaingan? Ternyata pemenangnya adalah Nintendo Wii, yang kualitas grafisnya biasa saja, prosesor tidak terlalu hebat, jelas kalah dari PS3 dan XBox. Ada apa gerangan? Wii memberikan nilai tambah yang tidak diberikan peralatan yang lebih canggih itu. Wii membuat orang bisa memainkan game yang 'biasa' seperti tenis, dengan interaktivitas mendekati aslinya. Siapa yang tidak penasaran? Sekarang ini permintaan Wii jauh melampaui penyediaannya. Nintendo kembali menjadi pemenang dalam arena!


Kita melihat tuntutan "Nilai Tambah" ini ada di mana-mana. Di Bandung, sekarang ini bermunculan banyak Distro, berdampingan dengan FO yang sudah lebih dahulu menjamur. Apa istimewanya Distro sehingga diserbu orang walaupun baju yang dijualnya begitu-begitu saja? Distro memberikan nilai tambah dengan mengangkat identitas kelompok pembelinya. Ada Distro untuk pencinta alam, Distro untuk Skaters, Distro untuk Surfers, dan sebagainya. Banyak anak muda yang membuat kategori baru atas identitas mereka, dan Distro memberikan produk-produk dengan ciri khas tertentu. Orang bukan membeli baju, melainkan membeli suatu citra yang diinginkannya. Itulah suatu nilai tambah.


Bagaimana dengan perumahan? Kalau melihat beberapa pengembang real estate papan atas, mereka juga mulai membuat pendekatan lingkungan. Kini orang bukan hanya membeli 'rumah', melainkan ingin membeli 'lingkungan'. Pengembang membuat nilai tambah dengan menyediakan banyak lahan hijau untuk resapan air, menanam banyak pohon besar yang rindang, membuat sistem sanitasi, bahkan tempat pengelolaan sampah yang mutakhir. Penduduk kompleks pun diminta untuk lebih baik mengelola lingkungan, antara lain menjaga pepohonan dan  ikut memisah-misahkan sampah -- dan mereka menyukainya. Itu pun adalah nilai tambah, yang masih belum terpikirkan oleh banyak pengembang tradisional yang masih berkutat dengan desain rumah apa yang paling disukai, membangun sebanyak-banyaknya di atas  kapling yang ada.


Baiklah, kalau begitu apa nilai tambah yang dapat kita berikan di tahun 2008? Tahun 2008 ditandai dengan tiga hal:


Yang pertama adalah kesadaran orang akan besarnya kesulitan ekonomi yang dapat terjadi. Kenaikan dan penurunan harga minyak dunia memberikan pengertian, bahwa sebenarnya kita ini sangat rapuh. Ekonomi yang semula nampak besar, seperti ekonomi Amerika, ternyata mengandung 'gelembung' yang bisa pecah tanpa terduga, menjadi kasus kredit macet dari subprime mortgage yang efeknya mendatangkan kerugian tidak kurang dari US$ 300 MILYAR. Lebih dari satu juta orang Amerika kehilangan rumahnya karena tidak sanggup membayar cicilan yang lebih mahal daripada kesanggupan financialnya. Di saat yang sama, orang juga mulai menyadari adanya penguasa-penguasa ekonomi dunia, yaitu para individu yang memiliki nilai investasi sedemikian besarnya, sehingga keputusan 1 orang dapat mempengaruhi sebuah negara. Kerja sama dari beberapa orang 'penguasa' dapat membangkitkan dan menjatuhkan pasar sekehendak hati mereka -- dan di sanalah mereka mendapatkan keuntungan yang fantastis. Konon tingginya harga minyak pun adalah suatu rekayasa -- karena kalau dilihat sebenarnya tingkat permintaan dan penyediaan minyak tetap berimbang, tak ada alasan langsung bagi kenaikan harga minyak sampai $100 per barrel.


Di dalam negeri, kita melihat adanya disintegrasi antara ekonomi makro dengan mikro. Antara pasar modal dengan dunia bisnis riil. Secara makro, pemerintah telah menurunkan BI Rate beberapa kali di tahun 2007, terakhir menjadi 8%. Secara makro, penurunan ini membuat naiknya saham, sekali lagi kita melihat kenaikan IHSG (dan tentu saja kenaikan NAB dari unit equity fund kita!). Tapi secara mikro, tidak terjadi peningkatan penyaluran kredit secara signifikan, khususnya kredit usaha. Kenapa? Karena Bank saat ini lebih ketat memanajemen resiko yang harus ditanggungnya. Berusaha di Indonesia mempunyai resiko yang tinggi, pula sukar untuk mempercayai orang. Sekarang ini kredit perbankan masih didominasi oleh kredit konsumsi, itupun dengan jumlah kredit macet yang semakin tinggi. Akibatnya, perbankan masih lebih banyak mengandalkan instrumen seperti SBI untuk menumbuhkan uangnya. Jumlah SBI yang dikeluarkan telah mencapai angka Rp 200 TRILIUN, di mana Pemerintah (BI) berbeban untuk memberi bunga hingga Rp 17 TRILIUN. Ini bukan jumlah yang statis, sebaliknya menjadi semakin tinggi. Bagaimana jika SBI kelak mencapai Rp 1000 TRILIUN?


Kalau ada orang masih berpikir bahwa ekonomi masih tetap sehat-sehat saja, barangkali ia harus segera mempelajari keadaan, agar mengerti bahwa rakyat Indonesia menghadapi kesulitan-kesulitan baru, yang tidak pernah dihadapi orang tua kita sebelumnya. Dengan memahami kesulitan di depan mata di tahun 2008, sebenarnya kita bisa memberikan NILAI TAMBAH dari produk yang kita pasarkan. Kita mampu memberikan pilihan-pilihan yang lebih baik, lebih tepat untuk masyarakat. Orang akan datang mencari kita untuk mendapatkan penjelasan bagaimana harus bersikap dalam keadaan ekonomi saat ini.


Yang kedua adalah kesadaran orang akan masalah pemanasan global dan perubahan iklim. Ini adalah 'kuda hitam' dalam ekonomi, yang mendadak bisa menyerbu masuk benteng-benteng ekonomi yang semula dianggap aman. Bagi orang Indonesia, hal ini seharusnya disikapi dengan lebih serius, karena dalam kenyataannya Indonesia adalah negara agraris, yang sumber kekayaannya berasal dari hutan, pertanian, perikanan, dan pertambangan. Negara kita bukanlah negara industri, yang sanggup membuat produk berteknologi. Walaupun nampaknya banyak orang berusaha membangun pabrik, tetapi semua itu tumbuh tanpa pemahaman dan perencanaan jangka panjang yang kuat. Otonomi daerah membuat keadaan menjadi semakin parah, karena sekarang para Pemerintah Daerah turut berlomba mendapatkan pemasukan asli daerah -- bukan untuk membangun daerahnya, melainkan tujuan-tujuan jangka pendek dalam ekonomi dan politik. Daerah mana yang secara serius memikirkan rancangan ekonomi? Bahkan Menko Ekuin mengakui bahwa sampai sekarang belum ada perencanaan perekonomian secara menyeluruh bagi Indonesia!


Jadi, sejak Repelita III semuanya keluar jalur. Demi membangun gengsi, banyak orang membuat pabrik yang menghasilkan produk jadi, yang langsung terlihat kemasannya di pasar, kelihatan keren, hebat, membanggakan. Tapi siapa yang membuat pabrik untuk menghasilkan bahan baku? Sedikit sekali. Ditambah lagi adanya campur tangan langsung dari Pemerintah, menciptakan sistem monopoli yang membuat penghasil bahan baku hanya itu-itu saja, dengan kapasitas terbatas. Dalam urusan minyak, misalnya, Pertamina sudah lama memegang monopoli, tapi yang dibelinya adalah kapal-kapal tanker (lantas pengadaannya jadi kasus korupsi), bukan membangun lebih banyak pengilangan. Karena kilang minyak kebanyakan ada di luar negeri, kita terpaksa mengimpor BBM dengan harga internasional, padahal Indonesia sendiri adalah eksportir minyak bumi dengan kualitas tinggi.


Orang sepertinya lupa, bahwa yang banyak adalah tanah dan airnya, yang harusnya dikelola adalah hutan dan ladangnya. Yang terjadi, pemerintah sedemikian sibuk mengurusi pabrik-pabrik tapi mengabaikan pengelolaan hutan, mengabaikan pengelolaan tanah, dan membiarkan laut Indonesia dikuras karena tidak ada cukup dana untuk membiayai penjaga perairan, dengan Angkatan Laut yang kecil dibandingkan luas lautan yang harus dijaga. Sekarang dunia menghadapi ancaman pemanasan global, siapakah yang seharusnya merasa paling terancam? Seharusnya rakyat Indonesia! Karena perubahan iklim membuat pertanian gagal, membuat sumber kehidupan sebagian besar rakyat Indonesia terganggu. Kalau petani  tidak lagi bisa memenuhi kebutuhan keluarganya, salahkah jika ia kemudian masuk hutan dan mencari sedikit penyambung hidup dengan menebang pohon? Demikianlah kita melihat para perambah hutan di Indonesia menjadi semakin banyak. Pemerintah pun tidak berbuat banyak ketika mereka memasuki areal hutan lindung dan taman nasional untuk membuka ladang bercocok tanam.


Perubahan iklim juga menimbulkan lebih banyak bencana, baik yang dikategorikan sebagai 'bencana alam' maupun 'musibah' yang harus dihadapi orang. Dengan begitu, tingkat resiko hidup orang Indonesia pun menjadi semakin tinggi, baik karena penyakit yang timbul setelah bencana, maupun naiknya kemungkinan orang-orang mengalami kecelakaan. Kita tentu saja berharap ini semua tidak terjadi -- kita bisa lihat bagaimana Sequis Life secara aktif mendukung penyelamatan bumi dari pemanasan global. Tapi, dalam kenyataannya tingkat resiko memang meningkat.


Kita di tahun 2008 dapat memberikan nilai tambah dengan menawarkan proteksi-proteksi yang memiliki tingkat kepastian absolut. Ini adalah produk-produk asuransi tradisional, yang terlindung dari gejolak akibat perubahan alam. Dalam investasi, selalu ada faktor resiko, termasuk resiko gagalnya investasi. Keadaan yang lebih beresiko menuntut orang memanajemen resikonya dengan mengalihkan pada asuransi, di mana asuransi itu sendiri harusnya tidak beresiko terhenti karena keadaan. Jika kita bisa menjelaskannya dengan baik, kita memberikan nilai tambah dalam rasa aman bagi keluarga Nasabah.


Yang ketiga, tahun 2008 adalah tahun terakhir pemerintahan sekarang ini, menjelang Pemilu di tahun 2009. Karena tekanan politik, maka kita bisa melihat bahwa ada usaha-usaha ekstra dari Pemerintah -- di sinilah "rapor" dari partai yang berkuasa dan kinerja Presiden dipertaruhkan. Dalam beberapa ukuran, pertama-tama kita bisa lihat bahwa Pemerintah akan berusaha agar pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai target minimal 6,8%. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi, semakin besar juga lapangan kerja baru tersedia. Pemerintah berusaha keras agar jumlah penganggur yang saat ini telah lebih dari 10 juta orang dapat dikurangi secara signifikan.


Untuk itu, Pemerintah juga akan berusaha keras menekan inflasi. Dalam dua tahun terakhir, inflasi kira-kira ada di bawah 7% (tahun 2006 6,6% dan 2007 diperkirakan 6,8%). Target Pemerintah untuk tahun 2008 adalah inflasi 5% plus minus 1% (atau dengan kata lain, antara 4% - 6%). Tingkat inflasi yang rendah berarti stabilnya daya beli uang, sehingga orang terdorong untuk melakukan usaha-usaha baru, atau melakukan ekspansi-ekspansi usaha yang ada. Ini tentu menjadi rapor bagus bagi Pemerintah untuk ditunjukkan pada tahun 2009, di mana orang akan habis-habisan berkampanye. Baru nanti, di tahun 2010, Pemerintahan baru yang harus membereskan sampah-sampah 'pesta demokrasi'.


Apakah keadaan ini bagus bagi semua pihak? Masalahnya, ekonomi bukan melulu soal modal. Ekonomi juga berbicara tentang kepercayaan (trust), dan nampaknya usaha kecil dan menengah masih sukar mendapatkan kepercayaan dari lembaga keuangan untuk mendapatkan permodalan yang ia butuhkan. Alhasil, usaha Pemerintah akan lebih banyak dinikmati oleh perusahaan-perusahaan yang sudah ada, demikian juga dengan rendahnya suku bunga kredit perbankan akan lebih dahulu dinikmati oleh para pengusaha lama yang sudah mapan dan dipercaya. Banyak dari perusahaan ini telah go public sebagai perusahaan terbuka. Apa artinya?


Kita bisa mengharapkan pertumbuhan pendapatan (earnings) dari para emiten saham yang lebih tinggi di tahun 2008. Dengan kenaikan ini, maka harga saham pun akan menjadi semakin tinggi -- jauh melampaui tingkat suku bunga obligasi. Di sisi lain, obligasi yang berjatuh tempo beberapa saat setelah Pemilu tidak begitu bagus, karena siapa yang tahu apakah pemerintahan baru nanti benar-benar dapat dipercaya? Akibatnya, kita bisa memperkirakan pasar saham menjadi lebih tinggi lagi, demikian pula dengan NAB di akhir tahun 2008. Mungkin saat itu, kenaikan investasinya dibanding awal tahun bisa mencapai 60%! Sebuah prediksi dari USB Investment Research mematok indeks harga saham gabungan (IHSG) melesat ke nilai 3050 dalam 12 bulan ke depan.


Kita bisa memberikan nilai tambah dengan penjelasan yang lebih baik, apalagi jika kita memang menguasai bidang-bidang yang selama ini dipakai masyarakat untuk berinvestasi. Nilai tambah dalam keuangan berkaitan dengan pemahaman kita tentang informasi serta hubungan sebab-akibat di dalam informasi itu. Tentu saja, kita terlebih dahulu harus mampu memilih informasi yang benar dari yang salah, yang akurat dari yang asal terdengar bagus. Tahun 2008 akan menjadi tahun yang mengesankan bagi orang-orang yang mampu memberikan nilai tambah. Sebaliknya, tahun 2008 akan menjadi tahun yang buruk bagi mereka yang hanya bekerja 'ala kadarnya' dan berharap bahwa sebuah produk dapat menjual dirinya sendiri.


Apa nilai tambah yang dapat kita berikan di tahun 2008? Kalau kita hanya berjalan sendiri-sendiri, maka tidak banyak yang bisa dilakukan -- apa yang bisa dilakukan oleh seorang manusia saja? Tetapi bersama-sama, sebagai Tim Pemenang, kita dapat memberikan nilai tambah kepada masyarakat, sesuatu yang amat berarti, yang tidak pernah disediakan oleh perusahaan lain, sebagai nilai tambah yang mengubah orang. Saya percaya, hari ini RePro sudah mulai meluncur, Take Off to Infinity.


Tahun 2008, RePro Agency will CHANGE LIVES. That's what we'll do!


Change Lives!


Donny A. Wguna


Powered by Qumana


Tuesday, November 27, 2007

Memahami Reksa Dana (Mutual Fund)

Kita semua sudah mendengar kata ini: 'investasi'. Bahkan di Amerika, lebih dari 80 juta rumah tangga telah melakukan 'investasi'. Apa yang disebut sebagai 'investasi' di sini sebenarnya adalah Mutual Fund, atau dalam bahasa Indonesia disebut Reksa Dana. Sedemikian seringnya disebut, tetapi ternyata banyak orang yang tidak mengerti apa Reksa Dana.

Reksa Dana atau Mutual Fund sebenarnya merupakan suatu bentuk bekerja berpatungan. Kita mungkin sudah pernah melakukannya: agar bisa mendapatkan sesuatu barang yang mahal, kita beramai-ramai mengumpulkan uang untuk membeli barang tersebut. Nanti barangnya dipakai secara bergilir, sehingga semua dapat merasakan manfaat dari barang itu. Masing-masing mendapatkan bagian manfaat yang serupa -- sesuatu yang dianggap sangat berguna -- tanpa harus mengeluarkan dana sendiri sebesar yang dibutuhkan.

Dalam dunia investasi, kita mengenal saham dan obligasi atau surat utang, sebagai sarana berinvestasi. Jika seseorang mempunyai satu atau dua saham saja, ada resiko besar yang harus ditanggung oleh orang itu sendiri. Menurut dogma "jangan menaruh semua telur di dalam satu keranjang", maka semakin banyak saham dan obligasi yang dimiliki, maka tingkat resiko yang ditanggungnya pun akan semakin kecil. Dikatakan bahwa orang itu mempunyai portofolio yang terdiversifikasi. Begitu satu saham jatuh, ada saham lain yang naik. Jadi, bagi orang yang mempunyai permodalan yang besar dan kuat, justru resiko yang harus ditanggungnya menjadi semakin ringan.

Karena itu, untuk benar-benar berinvestasi secara aman dan menguntungkan, orang membutuhkan dana yang amat sangat besar -- berapa banyak orang yang sanggup menyediakan modal raksasa? Ini seperti membutuhkan barang yang sangat bagus, tetapi harganya sangat mahal. Sedikit saja orang yang sanggup membelinya sendiri, sehingga satu-satunya cara adalah berpatungan sehingga terkumpul dana yang cukup besar.

Untuk berinvestasi, tentu saja dibutuhkan seseorang atau satu lembaga yang memahami bagaimana mengelola dana yang besar ini. Demikianlah kita kemudian mengenal adanya Manajer Investasi, atau disebut juga Fund Manager, yang mengelola dana secara profesional untuk mendapatkan hasil optimal (maksimal dalam hasil, minimal dalam resiko). Manajer Investasi mengelola dana yang sedemikian besarnya, sehingga tingkat resikonya menjadi lebih rendah. Dalam Reksa Dana Saham, misalnya, perubahan pada satu atau dua saham tidak akan menjatuhkan keseluruhan Reksa Dana karena selalu ada peningkatan dari saham-saham lain. Biaya transaksi pun menjadi lebih rendah, karena skala ekonomis yang tercapai. Lagipula, dengan banyaknya investor yang terlibat, dana masuk dan keluar dengan cepat -- berarti tingkat likuiditas (uang tunai) yang lebih tinggi. Tidak ada hambatan penalti karena mengambil dana yang belum jatuh tempo seperti di deposito bank.

Bagaimana dana dikumpulkan? Dalam hal ini, Manajer Investasi (MI) tidak dapat bekerja sendiri. MI harus didampingi oleh Bank Kustodian, sebagai pihak yang menerima kumpulan dana dan menyimpan efek-efek yang diperoleh dari transaksi investasi yang dilakukan. Maka, MI dan Bank Kustodian bekerja sama, kemudian MI menerbitkan apa yang disebut "Prospektus" atau penawaran kepada publik. Contoh prospektus Schroders untuk Equity Fund bisa didapatkan di sini: Prospektus SDPP

MI misalnya merencanakan untuk mengumpulkan dana sebesar Rp. 1.000.000.000.000 (Satu Trilyun) dari masyarakat. Jadi ia menawarkan agar orang menyertakan modalnya dalam satuan "unit", sebanyak 1.000.000.000 (Satu Milyar) unit, dengan nilai penyertaan modal sebesar Rp. 1.000 per unit. Masyarakat bisa berinvestasi dengan menyetorkan dana untuk ditukarkan dengan sejumlah unit. Misalnya Bapak A berniat berinvestasi sebesar Rp 1.000.000 (Satu Juta Rupiah) maka, Bapak A akan mendapatkan kurang lebih 1000 unit. Dalam perhitungan sebenarnya ada biaya yang dikenakan, tapi soal biaya kita kesampingkan dahulu agar jangan membingungkan.

Kemana Bapak A menyetorkan investasinya? Ia menyetorkan dana ke bank kustodian, seperti juga semua orang lain yang bergabung. Setiap kali ada dana yang masuk, MI akan memberi perintah transaksi kepada bank kustodian, misalnya untuk dibelikan sejumlah besar saham-saham, dengan nilai yang berbeda-beda. Karena dana yang terkumpul besar, maka portofolio saham yang dibentuk dapat menjadi amat beragam, ratusan saham diperoleh. MI tidak hanya memberi perintah membeli, tapi juga menjual saham, sehingga diperoleh peningkatan nilai.

Disinilah ada perbedaan antara satu MI dengan MI lainnya. Ada MI yang berinvestasi di saham-saham kecil, dengan imbal hasil tinggi dan resiko tinggi. Ada MI yang berinvestasi di saham besar, blue-chip, yang harganya relatif stabil dan mengharapkan pendapatan dari dividen. Setelah melalui jangka waktu tertentu, nilai total saham yang diperoleh akan menjadi semakin tinggi. Dalam jangka panjang, nilai reksadana saham pasti membesar.

Mengapa nilai reksadana saham pasti membesar dalam jangka panjang? Karena saham merupakan penyertaan modal di perusahaan, yang harus memiliki kesehatan ekonomis tertentu. Perusahaan yang masuk bursa harus mampu menunjukkan keuntungan dalam penjualan, agar perbandingan harga saham dengan pendapatannya (PER = Price to Earning Ratio) rendah. Orang akan memburu saham yang PER-nya rendah! Memang tidak mungkin sebuah perusahaan selalu untung -- ada tahun-tahun di mana perusahaan terbaik pun merugi. Namun dalam jangka panjang, keseluruhan dari usaha haruslah meningkat. Perusahaan yang terus menerus merugi akan terlempar keluar dari pasar saham, direstrukturisasi, atau diakuisisi.

Kembali ke ilustrasi di atas, misalnya saja setelah 5 tahun ternyata nilai harta yang dikelola MI tersebut, setelah dihitung oleh bank kustodian, menjadi Rp 6.000.000.000.000 (Enam Trilyun). Karena jumlah unitnya tetap 1 Milyar, maka sekarang nilai per unitnya menjadi Rp. 6.000. Bapak A yang sudah mempunyai 1.000 unit kini memiliki investasi senilai Rp.6 juta, naik enam kali lipat dari investasinya semula. Kalau dihitung dengan rumus bunga majemuk, rata-rata kenaikan per tahunnya kira-kira sebesar 43%.

Dalam prakteknya, tentu ada perhitungan biaya. Dalam Reksa Dana, pada prinsipnya ada 2 macam biaya yang dikenakan:

1. Biaya awal / initial charges / loading cost. Ini adalah biaya pertama yang dibebankan kepada nasabah, setiap kali nasabah membeli unit. Besarnya antara 2% - 5%, jadi misalnya Bapak A berinvestasi Rp 1 juta, yang dibelikan unit sebesar Rp 950.000. Ini menjadi beban Pemegang Unit.

2. Biaya tahunan yang dikenakan atas jasa manajemen yang diberikan, disebut juga management expense ratio (MER). Semakin sulit dan kompleks pengelolaan, semakin tinggi pula MER yang dikenakan. Dalam Reksa Dana, MER seringkali sudah dimasukkan ke dalam perhitungan nilai unit, atau disebut sebagai "Beban Reksa Dana", besarnya ditetapkan dalam prospektus yang disampaikan.

Sekarang, kalau dana sudah terkumpul, ke mana saja MI dapat menjalankan investasinya?

Pada hakekatnya, ada 3 macam instrumen investasi dasar:
1. Saham
2. Obligasi
3. Pasar Uang

Tentang saham, kurang lebih sudah kita bahas di atas. Yang penting untuk diingat: dalam jangka pendek, investasi di reksadana saham paling beresiko; dalam jangka panjang, investasi di reksadana saham paling aman.

Lalu ada lagi yang disebut obligasi / bonds, atau dalam bahasa biasanya: surat utang. Obligasi yang mendominasi pasar saat ini diterbitkan oleh Pemerintah, disebut SUN (Surat Utang Negara), yang dikeluarkan secara berseri. Yang menjadi patokan/benchmark sekarang adalah SUN berbunga tetap 10 tahun seri FR028. Obligasi Pemerintah ini tingkat kepastiannya lebih tinggi, karena didanai Anggaran Belanja Negara. Kecuali Pemerintah mengalami keruntuhan, imbal hasil obligasi negara bersifat sangat aman sehingga disebut risk free.

Obligasi dikeluarkan dengan suatu nilai muka / Face Value tertentu, misalnya saja Rp 1 Milyar, yang memberi bunga secara tetap, misalnya 8%, yang disebut kupon. Jadi setiap tahun penerbit obligasi akan memberikan bunga sebesar 8% dari Rp 1 Milyar, atau Rp 80 juta. Kupon bisa diberikan sekaligus setahun sekali, tapi ada juga yang memberikan per semester, jadi setengah tahun sekali akan memberi bunga Rp 40 juta. Karena itulah, obligasi disebut juga berpendapatan tetap. Setelah tiba jatuh tempo -- misalnya 10 tahun kemudian -- investasinya dikembalikan Rp 1 Milyar.

Dalam prakteknya, orang tidak harus memegang obligasi dari mulai terbit sampai saat jatuh tempo. Orang bisa memperjualbelikan obligasi, dan harganya bisa berubah-ubah. Pengaruhnya begini: ketika orang membutuhkan tempat berinvestasi yang lebih aman, maka obligasi dicari karena sifat obligasi yang pasti. Namun dengan tingginya inflasi, maka nilai bunga yang diberikan secara riil akan menjadi semakin kecil. Kalau banyak yang menginginkan obligasi, maka harga obligasi akan naik. Kalau banyak yang menjual obligasi, maka harga obligasi akan turun.

Ketika harga obligasi dijual lebih tinggi dari Face Value-nya, maka dikatakan obligasi dijual pada tingkat harga premium. Ketika dijual lebih rendah, dikatakan obligasi dijual pada tingkat harga diskon. Di sini kita pun dapat mengetahui imbalan / yield dari obligasi, yaitu besarnya bunga dibandingkan harga obligasi. Misalnya tadi, dengan nilai bunga tetap Rp 80 juta, harga obligasi menjadi Rp 1,2 M, maka yieldnya = 80/1200 = 6,6%. Sebaliknya kalau harga obligasi menjadi Rp 800 juta, maka yieldnya = 80/800 = 10%. Kita lihat, kalau harga naik maka yield akan turun, sebaliknya kalau harga turun yield akan naik.

Reksadana Pendapatan Tetap membeli dan menjual obligasi, di mana efek yang dihitung adalah harga dari obligasi. Karena harganya bisa naik dan turun, maka investasi pada obligasi pun bisa membesar atau mengecil. Karena sifat pastinya itu, maka harga obligasi hampir tidak berfluktuasi dalam jangka pendek, kecuali ketika terjadi masalah dalam negeri. Penyebabnya: pembeli SUN hari ini masih didominasi oleh investor dari luar negeri.

Reksadana Pasar Uang berinvestasi pada pasar uang jangka pendek yang bersifat sangat cair. Karena itu, harga unit pada reksadana Pasar Uang selalu hanya Rp. 1000, sedangkan peningkatan nilai tercermin dengan bertambahnya jumlah unit. Pasar Uang biasanya digunakan berpasangan dengan saham atau obligasi, untuk mempermudah aliran uang yang terjadi ke dalam investasi. Pasar Uang sendiri bersifat jangka pendek (<1 tahun).

Begitulah tentang Reksa Dana, semoga menambah wawasan kita sekalian.

Salam,
Donny A. Wiguna

Friday, November 16, 2007

Retirement Life Plan

Sebutkan satu hal yang paling mungkin menggagalkan rencana keuangan jangka panjang. Apa, coba?

Kebanyakan orang merasa cemas, bahkan ketakutan, uangnya hilang dibawa kabur pengelola. Tapi, ini sebenarnya adalah tentang pengawasan; semakin baik pengawasannya, semakin terjaga pula perusahaannya dari kemungkinan kriminal seperti itu. Dari semua perusahaan investasi yang terbukti menipu, tidak ada satu pun yang di bawah pengawasan Bapepam-LK. Dari semua yang diawasi Bapepam-LK, banyak yang ditutup karena tidak bagus pengelolaannya tapi tidak ada satu pun yang kabur!

Ada yang merasa takut karena hasil investasinya tidak dijamin. Betul, ini adalah pemahaman yang tepat. Memang hasil investasi tidak dijamin, tak ada satu pun yang dapat memastikan berapa persen pertumbuhan (atau penurunan) kinerja investasi besok. Apalagi tahun depan! Namun, kita bisa melihat siapa orang yang mengelola investasi. Seperti apa profesionalisme yang mereka miliki? Seperti apa kemampuan analisa yang tersedia? Memang kita tidak dapat mengatakan bahwa mereka tidak pernah kalah, tapi kita tahu bahwa dengan profesional, orang bisa lebih sering menang daripada kalah.

Yang orang jarang pikirkan, dan dengan sendirinya jarang merasa cemas, adalah satu hal yang paling sering menggagalkan rencana investasi jangka panjang dari segala produk investasi yang ada. Bukan pemerintah, bukan perusahaan, dan bukan agen-agen... melainkan Sang Investor, itulah dia! Ternyata musuh terbesar rencana investasi adalah si investor itu sendiri!

Mengapa begitu? Ada beberapa hal yang terjadi pada diri investor:

1. Lack of Planning. Sang investor ternyata tidak membuat perencanaan yang jelas dan pasti akan tindakan/ keputusan investasinya. Berinvestasi tanpa rencana yang jelas adalah seperti mengendarai mobil tanpa tujuan; bisa melaju dengan kecepatan tinggi, tapi hanya berputar-putar di tempat, menghabiskan energi dan waktu.

2. Menabung terlalu sedikit. Sang investor hanya bersedia menabung dari uang sisanya, dari "uang untuk dilupakan" yang mungkin merupakan hal receh dalam hidupnya. Bagaimana pun juga, dalam investasi berlaku hukum tabur - tuai: apa yang ditabur seseorang, itu juga yang dituainya. Kalau orang hanya berani menabur hal-hal kecil dan receh, bukankah ia juga tidak dapat berharap lebih dari sesuatu yang kecil dan tidak berarti ketika kelak dibutuhkan?

3. Menarik terlalu cepat. Banyak investor memulai dengan keraguan akan hasil investasi. Mereka mulai dengan mencoba-coba, untuk merasa senang karena ternyata hasilnya melebihi yang diharapkan. Setelah tahu bahwa hasilnya bisa sebesar INI, mereka lalu menambahkan lebih banyak investasi. Baru sebentar saja, begitu melihat hasilnya cukup banyak, mereka terus mengambil semua karena tidak sabar ingin membelanjakan hasil investasi yang menyenangkan.

4. Melupakan perencanaan jangka panjang. Berapa banyak investor yang benar-benar membuat rencana jangka panjang? Berapa banyak yang dengan serius memikirkan rencana pensiun dan warisan untuk dibagikan? Tidak banyak. Yang lebih sering, orang membuat rencana jangka pendek, seperti rencana sekolah anak, rencana membeli kendaraan, atau membeli properti. Lupa bahwa setiap orang mempunyai kebutuhan jangka panjang yang tidak mungkin diabaikan.

5. Menabung bunga kecil untuk jangka panjang. Ini kebiasaan investor di Indonesia: sementara mereka masih khawatir dengan pilihan investasi, nyatanya mereka menabung di tempat berbunga kecil dalam jangka panjang. Katanya mencari rasa aman! Padahal, bunga kecil tidak membuat suatu tempat investasi jadi lebih aman. Sebaliknya, bunga kecil --lebih kecil dari inflasi-- memastikan adanya resiko kehilangan nilai riil dari investasi. Tabungan harian yang berbunga kecil dengan biaya administrasi yang besar menjamin orang akan mengalami kerugian ketika menabung untuk hari depan.

6. Menabung bunga besar untuk jangka pendek. Ini adalah sifat 'berjudi' yang tersembunyi dibalik para investor, di mana kita sudah tahu: lebih banyak penjudi yang kalah daripada yang menang. Investasi yang fluktuatif tidak dapat diprediksi untuk jangka pendek, akibatnya seringkali mengejutkan. Berapa banyak modal yang lenyap dalam semalam karena aktivitas investasi jangka pendek di instrumen yang fluktuatif? Satu kegagalan dapat berarti rusaknya masa depan, karena kehilangan seluruh modal awal yang ada.

Kesalahan-kesalahan investor bukan hal yang asing, dan kita melihat banyak akibatnya. Dalam hal investasi itu dilakukan bersamaan dengan perlindungan finansial, kegagalan investasi menyebabkan berhentinya perlindungan finansial yang dibutuhkan. Padahal, masa depan tetap akan datang. Pasti akan tiba.

Ada dua hal yang pasti dalam hidup manusia: (1) Manusia pasti menjadi semakin tua, dan (2) jika manusia tidak menjadi makin tua maka ia pasti meninggal.

Apakah untuk hal-hal yang pasti, orang dapat bersandar pada sesuatu yang mempunyai suatu tingkat resiko, betapapun tingkat resiko itu amat amat sangat kecil? Kita semua, yang telah menjadi orang yang produktif, mempunyai suatu nilai ekonomi untuk kita lindungi, karena kita bertanggung jawab untuk mengantisipasi resiko yang dapat terjadi. Hitunglah berapa yang kita pertaruhkan, seandainya nilai ekonomi itu sudah sedemikian besar sedangkan perlindungan yang ada tidak memadai!

Untuk mendapatkan perlindungan yang PASTI, orang membutuhkan asuransi jiwa seumur hidup yang murni, terlepas dari investasi atau tabungan. Sayangnya, kebanyakan asuransi jiwa seumur hidup hanya memberikan kepastian ketika musibah terjadi, ketika kematian datang atau umur terlalu tua. Itu hanya satu sisi kepastian, yaitu pasti meninggal. Bagaimana dengan sisi kepastian lain, yaitu pasti menjadi tua dan masuk masa pensiun?

Di Sequis Life, yang juga dapat diperoleh melalui RePro Agency, ada sebuah produk asuransi jiwa seumur hidup yang memberikan kedua sisi kepastian ini. Jika diperbandingkan, rasanya belum pernah ada produk asuransi yang sedemikian baiknya! Produk ini bernama: Retirement Life Plan, sebuah jaminan perlindungan yang pasti akan hari tua, baik hidup maupun meninggal.

Retirement Life Plan memberikan perlindungan asuransi yang pasti, sama sekali tidak tergantung pada investasi naik atau turun. Masa Pembayaran Preminya dapat dipilih dari 4 pilihan: 5, 10, 15, dan 20 tahun, tergantung usia masuknya. Orang juga memilih kapan mau pensiun: umur 55, 60, atau 65?

Inilah yang terjadi pada saat usia pensiun tiba: Retirement Life Plan memberikan 100% Uang Pertanggungan pada saat masuk usia pensiun. Bukan usia 100 tahun ketika sudah uzur dan tidak lagi dapat menikmati dana yang diterima! Setelah memasuki masa pensiun, perlindungan tetap berjalan sampai usia 100 -- jika meninggal akan menerima 100% UP, demikian pula jika sampai usia 100. Selain UP yang pasti, masih ada bonus: Death Terminal Bonus (jika meninggal setelah tahun polis lebih dari 9) dan Maturity Terminal Bonus (jika tetap hidup sampai usia 100 / akhir kontrak). Tentu saja, namanya bonus tidak dijamin.

Bagaimana jika orang tersebut meninggal sebelum usia pensiun? Jika meninggal sebelum usia pensiun, maka uang pertanggungan yang diberikan adalah 200% UP Dasar. Perhatikan: kebanyakan asuransi benar-benar bermanfaat sebelum usia pensiun, karena saat itu orang masih amat produktif. Jadi, Retirement Life Plan bisa dihitung dengan UP hanya separuh dari yang dibutuhkan! Tentu ini akan mengurangi beban premi yang perlu dibayarkan.

Untuk mendapatkan manfaat terbesar, caranya tidak susah: atur agar ada cukup banyak waktu antara akhir pembayaran premi dengan usia pensiun. Kalau bisa, atur agar selisih waktunya lebih dari 10 tahun. Kepastian yang diberikan produk ini membuatnya menguntungkan nasabah, juga menguntungkan para konsultan keuangan -- kita.

Jadi, tambah lagi satu yang kita tawarkan: Retirement Life Plan

Take Off To Infinity!

Donny A. Wiguna

Tuesday, November 6, 2007

Health Protector Power

Siapa yang tidak ingin sehat terus? Kesehatan sangat penting! Ada banyak hal yang perlu dilakukan untuk memastikan kesehatan Anda tetap prima. Makanlah makanan bergizi, hindari rokok dan alkohol, cukup tidur dan cukup berolah raga. Jangan biarkan pekerjaan membuat Anda berantakan: masalah boleh bikin sakit kepala, tapi jangan sakit hati. Karena sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang yang stress cenderung mengalami penyakit lebih berat.

Sayangnya, kesulitan yang menekan nampaknya tidak akan berkurang, malah semakin menjadi-jadi. Dengan keadaan seperti hari-hari ini di Jakarta, kelihatannya kemacetan di jalan raya dapat merusak kesehatan manusia dan merugikan sekali -- jumlah kerugiannya diprediksi hingga trilyunan! Ini bukan biaya yang dikeluarkan langsung oleh Pemerintah, melainkan sesuatu yang harus ditanggung oleh masyarakat. Jika Anda tinggal di Jakarta, mungkin Anda sendiri harus menanggungnya.

Jadi, singkat kata, hidup kita semakin beresiko kena penyakit yang mungkin membuat kita terpaksa harus masuk rumah sakit. Kalau hanya dirawat ringan tidak terlalu masalah. Bagaimana kalau harus dioperasi?

Hari ini memang kita sehat. Tetapi siapa yang dapat memastikan bahwa di waktu yang akan datang kesehatan itu tetap terjaga? Masalahnya, biaya kesehatan juga bukannya berkurang, malah bertambah semakin tinggi. Rumah Sakit menjadi semakin modern, peralatan semakin canggih, kamarnya semakin nyaman, dan biayanya meningkat dengan cepat. Sebuah estimasi mengatakan bahwa kenaikan biaya pelayanan kesehatan di Indonesia mencapai 10% per tahun.

Apa artinya jika terjadi kenaikan biaya kesehatan sebesar 10% per tahun?

Begini: coba saja hitung dengan rumus bunga majemuk. Asumsinya: selama 10 tahun, kenaikan biaya kesehatan senantiasa 10% per tahun. Kalau hari ini biaya pembedahan adalah Rp 25 juta, maka 10 tahun lagi pembedahan penyakit yang sama (tentu dengan peralatan yang berbeda canggihnya) berbiaya kira-kira Rp 64 juta.

Itu adalah hitungan yang mengasumsikan kenaikan flat, tetap. Dalam prakteknya, kenaikan tidak tetap begitu rupa, namun biasanya didorong oleh suatu hal seperti investasi baru. Kadang hal itu tidak langsung berhubungan, seperti perubahan interior kamar rumah sakit, di mana renovasinya menghabiskan banyak biaya yang dibebankan kepada pasien. Jadi di tahun itu kenaikannya mungkin lebih dari 10%, di atas rata-rata. Coba hitung berapa biayanya!

Jadi semakin penting artinya orang harus menjaga kesehatan, tapi hanya menjaga saja bisa jadi sumber masalah. Begini: justru karena terbiasa tidak sakit, orang tidak mengantisipasi beban biaya rumah sakit yang timbul. Selama bertahun-tahun orang sehat selalu hanya datang ke RS untuk menjenguk, namun ketika dirinya sendiri harus menjadi pasien, orang terkejut menghadapi biayanya. Banyak yang masih berpikir bahwa biaya rumah sakit itu rendah -- mungkin sesuai dengan apa yang diingatnya, tanpa tahu bahwa sudah ada kenaikan-kenaikan.

Apakah Anda sudah mempunyai Asuransi Kesehatan? Bagus! Itu berarti Anda memang peduli dan berusaha mengantisipasi biaya kesehatan. Hanya, berapa lama dana perlindungan itu efektif untuk mencukupi biaya yang timbul? Kita tahu bahwa yang terbaik adalah membuat antisipasi sejak diri kita sehat, membuat asuransi kesehatan ketika kita berada dalam keadaan prima. Kemudian, jagalah kesehatan sebaik-baiknya -- selama mungkin kita berusaha untuk tidak perlu masuk RS. Tapi nanti, kalau sudah lebih tua dan penyakit tidak bisa dihindari, kita bisa masuk RS dan biayanya ditanggung asuransi kesehatan.

Nah, ternyata ketika hari naas itu tiba, banyak orang terkejut melihat asuransi kesehatan yang sudah dimiliki bertahun-tahun itu ternyata membatasi biaya bedah dan dokter, dan ternyata perlindungan yang ada sama sekali tidak memadai. Bertahun-tahun tidak pernah klaim, tapi begitu dibutuhkan justru pertanggungannya tidak cukup!

Di sinilah keunggulan penawaran dari Health Protector Plus Rider. Kalau ada yang bertanya, "apa sih hebatnya asuransi kesehatan ini dari yang lain?" Sadarilah bahwa hanya rider ini yang memberikan solusi lengkap untuk mengantisipasi masalah kesehatan, paling tidak sampai 10 tahun mendatang. Karena Health Protector Plus memberikan penggantian sesuai tagihan atas biaya pembedahan dan dokter, satu untuk dokter umum dan satu lagi untuk dokter spesialis yang berkunjung sehari sekali. Perlindungan kesehatan ini juga memberikan penggantian bedah pulang hari, sesuai tagihan.

Tentang sesuai tagihan ini, ada yang menunjukkan, bukan sesuatu yang baru. Sebelumnya ada asuransi kesehatan (dari asuransi umum) yang juga memberikan perlindungan sesuai tagihan. Jadi, mungkin Health Protector hebat dibandingkan dengan asuransi jiwa lain, tapi apa hebatnya dibandingkan dengan asuransi kesehatan umum lainnya?

Mari kita lihat: asuransi kesehatan umum berjangka waktu 1 tahun. Setiap tahun harus diperbaharui, dan menjadi semakin sulit ketika usia menjadi semakin tua walaupun tubuh tetap sehat walafiat. Orang mempunyai data statistik tentang berapa banyak orang tua yang menderita penyakit. Karena itu, asuransi kesehatan umum tidak dapat diandalkan untuk memberikan perlindungan jangka panjang, apalagi sampai usia 75 tahun!

Kenyataan bahwa Health Protector Plus Rider disertakan dalam SequislinQ Protector Plus memberikan nilai tambah lain. Sekarang biaya rider diambil dari hasil investasi, di mana tingkat pengembalian investasinya telah terbukti tinggi selama produk ini diluncurkan, jauh lebih tinggi daripada bunga bank. Kalau Anda perhatikan rumus bunga majemuk, tentu Anda mengerti bahwa selisih bunga bukan dihitung secara linear melainkan secara eksponensial, menutupi biaya yang dibutuhkan.

Dalam istilah yang lebih sederhana: dalam jangka panjang, hasil investasinya cukup untuk menutupi semua biaya kesehatan. Di ujung periode tertentu (misalnya 10 tahun), orang dapat mengambil kembali semua dana yang sudah dikeluarkan plus bunganya. Artinya: perlindungan kesehatan menjadi GRATIS selama periode itu!

Saya katakan, itulah Health Protector Power! Tentu saja, paling baik adalah tetap sehat sampai ajal menjelang, tetapi kalau tidak bisa, kita tahu bahwa perlindungan itu tersedia dengan baik sampai tua.

Sukses!
Donny A. Wiguna

Saturday, October 20, 2007

Kebutuhan Masa Depan

by Donny A. Wiguna

"Semua orang bisa memilih cara mempersiapkan masa depan -- kalau memang mereka mempersiapkannya." Kata-kata ini semakin sering saya ucapkan. Masalahnya, banyak orang ternyata tidak pernah memikirkannya sama sekali, dan karena itu tidak mempersiapkan apa-apa.

Jangan keliru; bukannya orang tidak mempunyai harapan tentang masa depan. Kita bisa bertanya kepada orang-orang dan mendapat beragam jawaban tentang masa depan apa yang mereka inginkan. Pada intinya orang ingin masa depan yang makmur, sejahtera, sehat, terpandang... semua hal yang baik dan manis dan sedap didengar. Untuk itu orang membuat berbagai macam usaha: meningkatkan pendidikan, membuat usaha, juga membuat asuransi pensiun. Harapannya, dengan memiliki hal-hal seperti gelar, perusahaan, dan sebuah polis asuransi, maka masa depannya terjamin.

Sayangnya, hanya memiliki saja belum tentu menjamin masa depan. Ada orang yang sudah mempunyai beberapa polis asuransi dan ia merasa aman. Apakah ia benar-benar aman? Mari kita lihat.

Ada dua kenyataan tentang finansial. Yang pertama, waktu terus berlalu, demikian juga seluruh proses yang terjadi di dunia. Satu misalnya, minyak bumi semakin habis. Harga bahan bakar naik. Sebagai pengganti, orang memakai minyak nabati untuk diolah menjadi bio-diesel, tapi itu berarti menaikkan harga minyak. Kita tahu sekarang harga CPO sudah naik tinggi, demikian pula harga minyak goreng. Itu terjadi di hari-hari ini, sementara penduduk dunia terus bertambah banyak -- demikian pula kebutuhannya.

Bagaimana dengan 10 tahun yang akan datang? 15 tahun? 20 tahun? Kelangkaan sumberdaya akan membuat kenaikan harga, sesuai dengan hukum penawaran dan permintaan. Hari ini kita sudah mulai mengalaminya; konon cadangan minyak bumi hanya tersedia untuk 15 tahun ke depan saja.

Yang kedua, kenyataan bahwa nilai mata uang akan menurun dengan berjalannya waktu. Dalam hitungan ekonomi, ada yang disebut Nilai Sekarang (Present Value) dan Nilai Masa Depan (Future Value). Rumus-rumusnya sudah disusun lama oleh para ahli, yang sekarang bisa kita hitung dengan mudah memakai berbagai program komputer. Perhitungannya melibatkan faktor inflasi, yang tidak bisa dihindari -- selalu terjadi setiap tahun, kadang besar dan kadang kecil.

Berapa inflasi yang terjadi? Beberapa tahun yang lalu, inflasi mencapai dua digit, artinya di atas 10% per tahun. Tetapi belakangan ini besaran inflasi menjadi lebih kecil. Tahun 2006, besarnya inflasi adalah 6,6%. Tahun 2007 besar inflasi kemungkinan besar masih di bawah 7%. Inflasi di waktu-waktu sekarang ini tidak besar, karena ekonomi riil di Indonesia masih belum pulih. Orang tidak bisa menaikkan harga jual, karena pasti tidak akan laku -- sekarang saja rasanya susah untuk menjual apa pun!

Tapi siapa yang tahu apa yang terjadi kelak? Harga minyak bumi pada tanggal 19 Okt 2007 menyentuh tingkat harga $90,02 per barrel. Dengan datangnya musim dingin, kelihatannya kita hanya menunggu waktu harga minyak menembus $100 per barrel. Apakah ini berita bagus buat Indonesia yang mengekspor minyak? Ya, sayangnya saat ini minyak yang disedot dari perut bumi sukar mencapai angka 1 juta barrel per hari (dan semakin lama semakin sedikit, semakin habis). Lagipula pemrosesan minyak masih dilakukan di luar negeri; hitungannya membuat Pemerintah harus mensubsidi lebih banyak untuk mempertahankan harga BBM dalam negeri. Seberapa lama Indonesia akan bertahan?

Semua ini terjadi sekarang, bisa kita perhatikan di berita. Pernahkah terpikir seperti apa kebutuhan masa depan, di masa yang jauh? Apakah kita cukup puas dengan mempunyai sedikit tabungan, atau bahkan beberapa polis asuransi dari berbagai perusahaan?

Untuk menghitung kebutuhan yang sesungguhnya, dibutuhkan analisa yang mendalam. Jangan terkecoh dengan angka, karena sifatnya relatif. Misalnya saja, kebutuhan orang hari ini untuk keluarga kelas menengah di kota besar adalah Rp 5 juta per bulan. Dengan perhitungan rata-rata inflasi 8% /tahun, pada saat 15 tahun mendatang kebutuhan per bulan mencapai lebih dari Rp 15 juta per bulan. Hari ini mungkin kita merasa uang Rp 10 juta itu banyak, tetapi di masa depan, uang sebanyak itu tidak cukup untuk hidup sebulan!

Produk seperti Life Jacket sangat bermanfaat sebagai pengungkit (leverage) yang memungkinkan orang mempertahankan tingkat kehidupan yang baik. Tetapi untuk itu sebenarnya dibutuhkan perencanaan yang seksama; bagaimana pun ini adalah masa depan kita sendiri. Yang dibutuhkan bukan hanya tentang menabung, melainkan juga pengaturan arus uang yang baik, pengelolaan aset, serta perencanaan pembiayaan yang memastikan masa depan yang lebih baik.

Apakah Anda merasa membutuhkan advis dalam hal ini? Hubungi para leader di RePro Agency di tempat Anda berada, atau Anda juga bisa menghubungi saya melalui email ke donny.wiguna@gmail.com

Salam sejahtera bagi Anda sekalian!

Donny A. Wiguna, ST, MA.

Saturday, October 13, 2007

Sertifikasi AAJI

Sekarang, profesionalitas para Agen Asuransi harus dibuktikan. Caranya?

Pertama, mari kita kenali bagaimana Pemerintah mengatur usaha perasuransian. Ini bukan sesuatu yang biasa atau sederhana saja, karena sesungguhnya ada produk Undang-Undang yang dibuat -- UU No. 2 Tahun 1992 -- untuk mengatur perasuransian. Kemudian, kita tahu bahwa semua usaha asuransi dikendalikan oleh Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BAPEPAM-LK), yaitu sebuah badan di dalam Departemen Keuangan.

Perusahaan-perusahaan asuransi terbagi jadi dua: asuransi jiwa dan asuransi umum. Masing-masing kelompok perusahaan membuat asosiasi -- bekerja sama dengan Pemerintah -- yaitu Asosiasi Asuransi Umum Indonesia dan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia. Di dalam kelompok ini ada etika kerja yang dibangun, kesepakatan tentang profesionalitas, serta cara-cara yang paling baik bagi masyarakat. Dari sini timbullah standar bagi profesionalitas seorang Agen.

Bagaimana membuktikannya? Ada 3 hal:

Yang pertama, seseorang yang terlibat dalam industri Asuransi Jiwa harus mendapatkan pelatihan/training yang memadai. Tidak boleh hanya dengan modal 'asal tahu' saja orang memberi penjelasan tentang asuransi jiwa, apalagi ditambah dengan kompleksitasnya investasi reksadana! Jadi orang yang memberi penjelasan haruslah orang yang memang punya kemampuan setelah mendapat pelatihan yang cukup.

Di Savingplus, keadaannya menjadi lebih sederhana karena yang terlibat cukup mengundang, sedang yang memberi penjelasan adalah penceramah / presenter, yaitu orang-orang yang memang sudah menguasai asuransi. Jadi tidak ada penjelasan yang dibuat sembarangan oleh orang yang tidak profesional. Seiring dengan berjalannya waktu, para pengundang juga dapat mengikuti RePro Business School yang memberi penjelasan selengkapnya tentang asuransi. Pelatihan diberikan secara komprehensif dan memadai, melengkapi setiap orang yang terlibat dalam Savingplus untuk menjadi Profesional.

Yang kedua, setelah dianggap mendapatkan pelatihan yang cukup, orang itu juga harus mengikuti ujian untuk mendapatkan sertifikat AAJI. Dengan mengikuti ujian -- jangan anggap enteng, sebaliknya ujian ini cukup menyeluruh -- maka dapat dipastikan bahwa orang itu memang layak disebut Profesional.

Saat ini orang-orang yang terlibat di RePro Agency mulai mengikuti sertifikasi; selain itu masih ada sejumlah Agen yang sudah bersertifikat yang bergabung di RePro dan membagikan ilmunya. Kini jumlah pemiliki sertifikat di RePro sudah puluhan; harapannya di akhir tahun 2007 ini semua presenter profesional sudah mengikuti sertifikasi AAJI.

Yang ketiga, setelah mengikuti sertifikasi ada juga pelatihan-pelatihan lanjutan untuk mempertahankan tingkat kemampuan Agen. Sertifikat berlaku selama 2 tahun; selama waktu itu ada sejumlah point pelatihan yang harus dipenuhi. Jadi seseorang tidak bisa 'asal lulus' sertifikasi AAJI, lantas melupakan ilmunya.

RePro bukan saja membangun sistem pemasaran Savingplus yang dapat diikuti umum, tetapi juga mengembangkan RePro Business School untuk terus menerus menemukan cara yang lebih baik untuk melayani -- Blue Ocean Networking. Proses ini tidak berakhir hanya dengan satu paket modul, sebaliknya setiap orang diharapkan untuk terus menerus bertumbuh dalam profesionalisme.

Dengan begitu, sertifikasi AAJI bukan lagi sesuatu yang asing atau menakutkan, sebaliknya justru menenangkan dan memberi kepastian. Kami percaya bahwa ujian hanyalah satu batu pengukur -- lebih dalam lagi adalah sikap dan karakter yang dibentuk, untuk memastikan profesionalitas sebagai bagian dari sifat seseorang.

Pada bulan April 2008, peraturan mengharuskan setiap orang yang diangkat menjadi agen asuransi harus sudah lulus sertifikasi AAJI. Apakah sukar? Tidak. Karena dengan Savingplus, orang tetap dapat mengundang dan mengambil bagian dalam bisnis yang menguntungkan. Tetapi tentunya ada hasil yang lebih besar yang bisa didapat oleh seorang agen yang sudah diakui kualitasnya.

Selamat menjadi Profesional!

Take Off to INFINITY
Donny A. Wiguna